Siang ini aku dapat forward sebuah email artikel yang isinya bagus banget ( menurutku ). Sang Kehidupan, yang masih saja meninggalkan tanda tanya di benakku, sedikit banyak terjawab ketika membacanya. Aku tidak mengenal pengarangnya, tapi siapapun dia, ...

Click here to read this mailing online.

Your email updates, powered by FeedBlitz

 
Here is a sample subscription for handoko.ww@gmail.com


"KataMata" - 5 new articles

  1. Sang Dadu
  2. Korban SMS : Salah Bahasa, Runyam jadinya
  3. 16. Kekuatan Doa
  4. 15. Memberi = Investasi Rejeki
  5. 14. Perjalanan 100 Li Dimulai Dari 1 Li
  6. More Recent Articles

Sang Dadu

Siang ini aku dapat forward sebuah email artikel yang isinya bagus banget ( menurutku ).
Sang Kehidupan, yang masih saja meninggalkan tanda tanya di benakku, sedikit banyak terjawab ketika membacanya.

Aku tidak mengenal pengarangnya, tapi siapapun dia, terima kasih sudah membagikan artikel yang mencerahkan ini.



Sang Dadu

Ketika saya pulang di sebuah senja, saya masih melihatnya duduk di sana. Seorang wanita empat puluhan duduk dalam kiosnya di tepi seruas jalan di kotaku yang telah ribuan kali kulewati. Puluhan tahun yang lalu ketika usia saya masih belum genap sembilan tahun, kios itu sudah ada disana. Menjajakan majalah, koran, dan sejumlah barang kelontong.

Ketika itu mobil kami berhenti di depan kiosnya dan wanita itu datang menghampiri membawa apa yang biasanya kami inginkan, majalah Ananda dan Bobo buat saya serta majalah Tempo dan Intisari untuk ayah. Demikian terjadi sepekan sekali sepulang sekolah selama bertahun-tahun hingga tiba saatnya saya beranjak rem aja dan berganti selera baca, saya tak lagi menemui wanita itu.

Sekonyong-konyong di senja itu, tatapan mata saya ke luar angkot yang tengah membawa saya pulang ke rumah, menyapu kios itu dan wanita yang sama di dalamnya. Bedanya, kali ini ia tak lagi menjajakan koran dan majalah. Hanya rokok, minuman cola, air mineral, dan sejumlah barang lain. Apakah itu semacam kemunduran perniagaan, saya tak tahu persis. Yang tampak jelas bagi sel-sel kelabu saya adalah kenyataan bahwa ia, untuk menafkahi hidupnya, masih saja duduk di tempat yang sama, setelah lewat bertahun-tahun.

Suatu sore lain dalam sebuah gerbong kereta yang saya tumpangi, saya menatap puluhan gubuk dan rumah petak di sepanjang lintasan rel yang menuju stasiun Senen. Benak saya digelayuti iba dan juga pertanyaan. Sejumlah gerobak mie ayam melintas di jendela dengan cepat. Apa yang begitu menarik dari kota ini, beg itu pertanyaan saya, sehingga mereka sanggup bertahan dalam kepapaannya di tengah gemuruh Jakarta yang keras. Apakah itu nasib? Adakah nasib yang membuat Ibu penjaja koran yang tinggal di Semarang dan mereka yang tinggal di kompleks kumuh Jakarta tetap bertahan di sana?

Bagaimana bisa kita memahami nasib? Saya tak bisa. Tetapi keponakan saya yang berumur lima tahun punya petunjuknya.

Saat itu saya sedang bermain berdua dengannya: Ular-Tangga. Setelah beberapa lama bermain dan bosan mulai merambati benak, saya meraih surat kabar dan mulai membaca-baca. Nanda, keponakan saya itu, kemudian berkata, "Ayo jalan! Gililan Om. Kalo nggak jalan juga, Om bakal nggak naik-naik, di situ telus, dan mainnya nggak selesai-selesai."

Saya tersadar.

Ular-Tangga, permainan semasa kita kanak-kanak, adalah contoh yang bagus tentang permainan nasib manusia. Ada petak-petak yang harus dilewati. Ada Tangga yang akan membawa kita naik ke petak yang lebih tinggi. Ada Ular yang akan membuat kita turun ke petak di bawahnya.

Kita hidup. Dan sedang bermain dengan banyak papan Ular-Tangga. Ada papan yang bernama kuliah. Ada papan yang bernama karir. Suka atau tidak dengan permainan yang sedang dijalaninya, setiap orang harus melangkah. Atau ia terus saja ada di petak itu. Suka tak suka, setiap orang harus mengocok dan melempar dadunya. Dan sebatas itulah ikhtiar manusia: melempar dadu (dan memprediksi hasilnya dengan teori peluang). Hasil akhirnya, berapa jumlahan yang keluar, adalah mutlak kuasa Tuhan. Apakah Ular yang akan kita temui, ataukah Tangga, Tuhanlah yang mengatur. Dan disitulah Nasib. Kuasa kita hanyalah sebatas melempar dadu.

Malangnya, ada juga manusia yang enggan melempar dadu dan menyangka bahwa itulah nasibnya. Bahwa di situlah nasibnya, di petak itu. Mereka yang malang itu, terus saja ada di sana. Menerima keadaan sebagai Nasib, tanpa pernah melempar dadu.

Mereka yang takut melempar dadu, takkan pernah beranjak ke mana-mana. Mereka yang enggan melempar dadu, takkan pernah menyelesaikan permainannya.

Setiap kali menemui Ular, lemparkan dadumu kembali. Optimislah bahwa di antara sekian lemparan, kau akan menemukan Tangga. Beda antara orang yg optimis dan pesimis bila keduanya sama-sama gagal, Si Pesimis menemukan kekecewaan dan Sang Optimis mendapatkan harapan.

Sumber: Sang Dadu oleh Edy Pratolo (milist resonansi)




    

Korban SMS : Salah Bahasa, Runyam jadinya

Aku pernah ngomel ke temanku karena dia kalo SMS tuh panjang banget, kaya orang lagi ngomong. Aku bilang kenapa ga disingkat aja sih, point-pointnya aja gitu lho, jadi praktis.

Dia senyum-senyum aja. Lalu dia bilang kalo dia tuh concern banget sama bahasa karena menurut dia, bahasa lisan yang diucapkan dengan bahasa tertulis tuh beda banget. Bahasa lisan sangat dipengaruhi oleh nada pengucapannya. Kalimat yang sama kalo diucapkan dengan nada yang berbeda akan dipersepsikan secara berbeda pula. Nah apalagi SMS, kalo ga ati-ati, orang yang membacanya bisa-bisa salah tangkap.

Sekarang aku baru nyadar kalo omongan dia itu ada benarnya. Kemarin temanku yang lain, Agus, curhat kalo dia baru aja berantem dengan adik perempuannya. Gara-garanya sang Mama salah menerjemahkan isi SMS. Temanku ini tinggal di daerah Kebun Jeruk bersama adik perempuannya yang bernama Yanti.

Ceritanya dimulai waktu Agus tiba-tiba di-“semprot” lewat SMS oleh Mamanya yang ada di Magelang. Teman saya satu ini wong jowo, jadi kalo SMS-an dengan keluarganya ya campur-campur bahasa jawa. Jadi tambah semrawut deh.

Singkat cerita, tanpa ba bi bu, Mamanya marah-marah :
“Gus, kamu mbok ya prihatin sedikit, wong lagi susah gini kok kamu mangane rewel, ngrepotin Yanti wae.”
( Gus, kamu prihatin sedikit gitu lho, sedang susah begini kok kamu makannya rewel, merepotkan Yanti saja )

Agus yang lagi bengong menjawab :
“Maksudnya makannya rewel piye tho Ma?”
( Maksudnya makannya rewel gimanasih Ma? )

“Lha itu Yanti ngomong katanya kamu kalau makan cuma mau nasi gandul.”
( Lha itu Yanti bilang katanya kamu kalau makan cuma mau nasi gandul )

Sekedar catatan, nasi gandul yang dimaksud adalah makanan khas kota Pati-Jawa Tengah yang memang yummy. Disuguhkan pake piring kecil dan dialasi daun pisang, nasi gandul ini isinya nasi dengan lauknya potongan-potongan kecil daging sapi yang empuk dan kuah cairnya berwarna kecoklatan. Porsinya cuma secuil ( buat aku sih ), jadi biasanya kalo makan ya bisa sampe 2-3 porsi. Hehe..wah, kok jadi ngelantur ngomongin makanan. Ok, kembali ke Laptop.

Si Agus begitu mendapat SMS seperti itu, sontak langsung berang dan mendatangi Yanti. Dia mulai berpikir kalo adiknya ingin mengadu domba dirinya dengan sang Mama. Jelas sang adik ikutan marah karena dituduh seperti itu. Jangankan menfitnah, lha wong di Jakarta yang jual nasi gandul dimana aja dia ga tau kok.

Usut punya usut, akhirnya Yanti sadar bahwa sang Mama salah mengartikan SMS darinya. Setengah ga percaya, Agus masih berusaha menginterogasi adiknya,

”Emangnya kamu cerita apa ke Mama?”

“Nih ya, Yanti ceritain. Kemarin Mama memang SMS nanya kenapa kok Yanti belum makan padahal sudah lewat jam makan.”

“Trus kamu jawab apa?”

“Yanti jawab, iyo Ma Yanti repot soale kak Agus kan kalo makan nasi gandul.”

Catatan: Dalam bahasa jawa lisan, seharusnya “gandul” diucapkan “nggandul” yang artinya “bergantung”. Tapi Yanti menghilangkan “ng” didepannya.

Jadi sebenarnya si Yanti tuh mau bilang :

“Iya Ma Yanti repot soalnya kak Agus kan kalo makan nasi, bergantung ( ke Yanti ).”

Ga ada yang salah kalau nulisnya seperti itu, karena memang di rumah itu Yanti yang bertanggung jawab menyiapkan makanan. Jadi runyam ketika dibaca Mamanya, dikira si Agus rewel kalo makan maunya cuma nasi gandul. Hahahaha…. andai saja “ng” didepannya ga dihilangkan. Atau andai saja antara kata “nasi” dan “gandul” dikasih nada sela. Tapi ya ga mungkin, namanya juga tulisan gimana mau ngasih nada sela.

Itulah makanya ati-ati kalo nulis SMS tuh, musti dibedain dengan kalo kita lagi ngomong sama orang. Sekarang terbukti khan, gara-gara SMS sepele, seluruh “dunia persilatan” jadi geger.

( Offline dulu aah.., jadi laper ngomongin nasi gandul )


Written by : Handoko


    

16. Kekuatan Doa

Serial Resurrection - Gagal dan Bangkit Kembali

Saya yakin bahwa kita semua percaya bahwa ada entitas yang lebih tinggi yang mengatur dan menguasai hidup manusia yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Semua yang anda miliki saat ini bukan semata-mata hasil usaha anda sendiri, namun karunia Tuhan lah yang mengijinkan semua itu terjadi. Yakinlah bahwa Tuhan tidak menginginkan anda gagal dan menjadi makhluk yang tak berguna. Tugas kita di dunia adalah menjadi alat-Nya untuk membantu sesama kita, dan itu tidak bisa terjadi jika kita gagal. Oleh karena itu, percayalah bahwa Tuhan menginginkan anda untuk menjadi orang yang sukses dan berhasil karena dengan demikian barulah anda bisa membantu orang lain. Ibarat diri anda adalah mobil, Tuhan lah pengemudinya. Jadi libatkanlah Tuhan dalam setiap perencanaan hidup yang anda buat, dan satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengan-Nya adalah melalui doa.

Kekuatan sebuah doa tergantung dari kekuatan iman kita. Iman diukur dari seberapa besar anda percaya kepada-Nya. Percaya bahwa Dia ada dan percaya bahwa Dia mampu melakukan segala sesuatu jika Dia berkehendak. Oleh karena itu doa orang yang percaya sangatlah dahsyat kuasanya. Ungkapkan semua rencana yang akan anda lakukan didalam doa dan mintalah agar Tuhan yang membangun itu semua, bukan anda sendiri. Dengan demikian anda boleh yakin ‘mobil’ anda telah berada di jalur yang benar, bahkan bukan hal yang mustahil jika anda malahan ditempatkan di jalan tol sehingga perjalanan anda lebih cepat sampai. Namun semuanya itu hanya dapat terjadi jika anda meletakkan semua pekerjaan anda di dalam doa. Jadi jangan pernah meremehkan kekuatan doa.

Written by : Handoko
    

15. Memberi = Investasi Rejeki

Serial Resurrection - Gagal dan Bangkit Kembali

Dalil matematika manapun akan mengatakan bahwa untuk memperbanyak apa yang anda miliki adalah dengan cara menambahnya, bukan menguranginya, apalagi memberikannya kepada orang lain. Semakin banyak anda memberikan kepada orang lain, maka semakin habislah apa yang anda miliki. Benarkah demikian?

Alam semesta memiliki rumus tersendiri yang tidak bisa dinalar oleh pikiran manusia. Lao Tze dengan ajaran Tao nya mengatakan bahwa anda tidak bisa mengisi sebuah mangkuk dengan air jika anda tidak mengosongkannya terlebih dahulu. Makna yang tersirat adalah bahwa apa yang anda dapatkan bukan semata-mata karena usaha anda sendiri, namun ada campur tangan Tuhan disitu. Oleh karenanya, apa yang telah anda peroleh dengan cuma-cuma, berikanlah juga untuk orang lain secara cuma-cuma. Dengan demikian ‘mangkuk’ anda akan selalu dipenuhi-Nya. Tetapi, perlu diingat bahwa rumus tersebut baru akan bekerja jika ada ketulusan didalamnya. Artinya, jika anda melakukannya dengan mengharapkan balasan, itu masuk dalam kategori investasi. Dengan demikian rumus rejeki diatas tidak akan berhasil.

Yang dimaksud memberi tidaklah harus berupa uang, namun apapun yang dapat anda lakukan untuk membantu orang lain. Saya pernah bertemu dengan seorang pemilik salon kecantikan di daerah Jakarta Selatan. Dia termasuk pengusaha sukses di bidangnya. Salonnya begitu megah dan tak pernah sepi dikunjungi orang. Melihat penampilan dan mobil yang dikendarainya, setiap orang bisa langsung mengetahui bahwa dia orang yang berduit. Siapa yang menyangka dibalik kemewahan dan kesuksesannya, dia memiliki satu kegiatan sosial yang rutin dilakukannya. Sebulan sekali, dia akan mengunjungi panti asuhan untuk memotong rambut anak-anak yang ada disitu tanpa dipungut biaya dan dia melakukannya dengan senang hati dan benar-benar menikmatinya. Sangat mengagumkan mengetahui bahwa ketika anda mendayagunakan diri anda untuk orang lain dengan tulus, maka hidup anda tidak akan pernah terlantar dan kekurangan.

Rumus rejeki diatas mengajarkan bahwa hidup haruslah berbagi. Hidup anda barulah bermakna jika bermanfaat untuk orang lain. Ketika anda menggunakan apa yang anda miliki untuk memperbaiki hidup orang lain, maka alam semesta lah yang akan memperbaiki hidup anda. Jadi janganlah khawatir akan kekurangan. Makin besar ketulusan yang anda berikan, makin banyak pula pintu rejeki yang akan terbuka untuk anda. Itulah hukum alam.

Written by : Handoko
    

14. Perjalanan 100 Li Dimulai Dari 1 Li

Serial Resurrection - Gagal dan Bangkit Kembali

Pepatah diatas sangat terkenal sekali di negeri Cina.. Perjalanan anda masih panjang, jadi jangan terlalu lama ‘terbuai’ dalam kondisi yang anda alami. Begitu pikiran anda sudah normal kembali, motivasi sudah mulai terbakar lagi, mulailah menentukan langkah anda berikutnya.

Menentukan Arah Baru Yang Jelas
Apapun impian anda, itu adalah berupa suatu tempat / tujuan yang ingin anda capai. Untuk itu anda memerlukan arah yang jelas untuk menuju kesana. Jika anda tidak tahu kemana akan menuju, berhati-hatilah, karena anda hanya akan berputar-putar ditempat. Dalam banyak kasus, kegagalan membuat mental seseorang menjadi jatuh. Anda mungkin merasa sudah sedemikian jauh kehilangan arah dan untuk menentukan arah baru serasa di awang-awang.

Coba tanyakan pada diri anda sendiri, apa yang menghalangi anda untuk mencobanya kembali? Kecuali anda sudah tahu bahwa umur anda tinggal seminggu lagi, maka tidak ada alasan untuk mencoba dan mencoba lagi. Sudah seberapa jauh pun anda melenceng, selalu ada waktu untuk mengembalikan ke jalurnya yang benar. Anda hanya perlu untuk menentukan arah baru yang jelas dan mencobanya kembali. Tidak penting dari mana anda memulainya, yang penting adalah kemana anda akan menuju.

Meminimalkan Resiko
Sekarang yang mungkin masih menjadi pertimbangan anda adalah resiko. Anda sudah cukup banyak kehilangan sehingga tidak ingin lagi mencoba sesuatu yang beresiko. Percayalah, saya tahu betul bagaimana resiko adalah momok terbesar untuk mencoba melangkah lagi. Tetapi saya ingin memberitahu anda bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bebas resiko. Ketika anda mengemudi, selalu ada resiko mobil anda akan menabrak atau ditabrak. Ketika anda makan pun ada resiko akan keracunan entah itu karena alergi atau karena makanannya yang tidak higienis. Jika anda sering mendengarkan berita di TV, ada banyak kasus buruh pabrik yang keracunan oleh makanan catering nya. Bahkan pemilik catering pun tidak menyangka akan terjadi seperti itu karena dia sudah menyiapkannya dengan baik. Bahkan belakangan ini, bernafas pun beresiko tertular virus SAR atau flu burung. Jadi jika makan dan bernafas saja beresiko, apalagi untuk memulai sebuah usaha baru, sudah pasti resiko nya ada dan itu hal yang biasa.

Yang perlu dipikirkan sebenarnya adalah bagaimana meminimalkan resikonya. Apa yang membedakan antara pengemudi yang sering mengalami tabrakan dengan yang belum pernah / jarang mengalami tabrakan? Jawabannya adalah ketrampilannya dalam mengemudi. Jadi jika anda memiliki ketrampilan mengemudi yang baik, anda tidak akan takut bahwa anda akan menabrak atau ditabrak orang. Dengan kata lain, resiko menabrak atau ditabrak menjadi kecil bahkan terasa tidak ada.

Artinya, untuk meminimalkan resiko dibutuhkan skill dan knowledge yang lebih baik. Oleh karena itu cari tahu, pelajari dan kuasailah hal-hal yang belum anda ketahui dalam bidang yang akan anda jalani. Makin tinggi skill dan knowledge anda, makin kecil pula lah resiko yang akan anda hadapi, bahkan bisa jadi anda tidak merasakan adanya resiko apapun.

Lebih dari segalanya, yang terpenting adalah mewujudkan dalam bentuk tindakan. Anda boleh sudah memotivasi diri, semangat berapi-api, mindset sudah benar, mental juara, rencana brilian, knowledge sempurna, resiko 0%, tapi jika tidak pernah anda wujudkan dalam tindakan sama saja dengan mimpi di siang bolong. Meminjam istilah dari Friedrich Engels : “An ounce of action is worth a ton of theory”. Satu ons tindakan senilai dengan satu ton teori.

Biasanya kendala yang dihadapi adalah kita sering merasa tidak sanggup untuk melakukannya. Rasanya rencananya terlalu besar dan anda tidak pernah melakukannya. Saya akan mengatakan bahwa gunung yang besar sekalipun dapat dipindahkan jika dikeruk sedikit demi sedikit dan selalu ada saat pertama kali dalam segala hal. Anda hanya perlu memulainya, setelah itu tidak akan ada lagi perasaan canggung. Pecahlah rencana besar anda menjadi langkah-langkah kecil kemudian anda bisa menyelesaikannya satu demi satu.

Alasan lain adalah bahwa waktunya belum tepat karena masih ada banyak hal yang harus dilengkapi. Anda memang harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, namun adakalanya tidak semuanya dapat terpenuhi. Jadi tidak perlu menunggu terlalu lama sampai betul-betul sempurna. Lakukanlah segera, sisanya adalah improvisasi di lapangan. Para karateka percaya bahwa pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Dengan menyerang lawan, mereka menemukan celah yang lebih banyak daripada hanya bertahan dan menunggu kesempatan. Jika ada yang bertanya kapan waktu yang paling tepat? Kapanpun anda siap, itulah waktu yang paling tepat. Jadi jika persiapan anda sudah matang, jangan menunggu terlalu lama. Just do it!

Written by : Handoko
    

More Recent Articles


You Might Like

Click here to safely unsubscribe from "KataMata."
Click here to view mailing archives, here to change your preferences, or here to subscribePrivacy