Judul Buku: Mudah Menjadi Penerbit Buku Digital Google Play. Link: Google Play Book | Google Books. Tanggal Terbit: 14 Mei 2022. Di masa lalu, menerbitkan buku membutuhkan biaya yang cukup mahal. Hal ini menjadi berbeda ketika Google Play Book ...
‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ 

[Buku Baru] Menjadi Self-Publisher Melalui Google Play and more...


[Buku Baru] Menjadi Self-Publisher Melalui Google Play

Judul Buku: Mudah Menjadi Penerbit Buku Digital Google Play

Link: Google Play Book | Google Books

Tanggal Terbit: 14 Mei 2022

Di masa lalu, menerbitkan buku membutuhkan biaya yang cukup mahal. Hal ini menjadi berbeda ketika Google Play Book menyediakan platform untuk menerbitkan buku secara digital. Hampir tidak ada biaya yang dikeluarkan untuk mencetak buku karena semuanya dalam wujud digital. Apalagi platform untuk membaca buku Google Play Book saat ini makin banyak terpasang di gadget dan mesin pencarian juga membantu mengarahkan ke buku-buku yang diterbitkan melalui Google Play Book. Kelebihan dari buku digital adalah dapat terus ditambahkan kontennya oleh penulisnya sehingga dapat semakin memudahkan pembaca tanpa harus membeli lagi.

Buku ini membahas pembuatan e-book dengan menggunakan format EPUB yang adaptif bagi perangkat digital. Dibandingkan PDF, besaran huruf dan halaman format EPUB lebih nyaman di mata dan tidak mengharuskan kita menggunakan jari untuk memperbesar dan menggeser bagian dari halaman yang ingin dilihat. Selain itu juga bisa ditambahkan video di dalamnya.

Bagi penerbit buku yang sudah eksis namun belum masuk ke buku digital, kanal baru dunia penerbitan buku digital akan menjadi salah satu alternatif masa depan yang tidak terhindarkan. Buku ini akan memudahkan Anda yang berencana untuk masuk ke dunia penerbitan buku digital, baik sebagai perusahaan penerbit maupun pribadi (self-publisher). 




   


”Metaverse" Bukan Obat Dewa

(Kompas, Opini, 19 April 2022)


Metaverse disebut-sebut jadi mantra baru dalam pengembangan teknologi atau bahkan kehidupan di masa depan. Akan tetapi, seperti teknologi lainnya metaverse bukan obat untuk segala masalah dan bebas dari efek negatif.

Setelah Mark Zuckerberg mengumumkan perubahan nama Facebook menjadi Meta beserta rencana pengembangan metaverse dalam sepuluh tahun ke depan, Seoul mendeklarasikan penerapan metaverse untuk kotanya lima tahun ke depan.

Di dalam negeri, langkah ini juga diikuti beberapa BUMN, universitas, dan pemerintah daerah melalui kesepakatan kerja sama dalam beberapa waktu ke depan. Metaverse disebut-sebut jadi mantra baru dalam pengembangan teknologi atau bahkan kehidupan di masa depan.

Sebagai sebuah pengalaman baru, atau bahkan baru sekadar informasi baru, berbagai analisis terkait dampak keberadaan metaverse muncul tiba-tiba secara gegap gempita, tetapi tidak lengkap dan tak komprehensif. Mengharapkan metaverse menjadi solusi positif tanpa adanya risiko dan dampak negatif hanya akan menjauhkan masyarakat dari kenyataan.
Sama seperti kenyataan yang lain, di mana mengharapkan seseorang dengan kepandaian penyembuhan untuk dapat menyembuhkan segala hal, atau sebuah pil yang hebat dapat menyembuhkan segala penyakit, hanya akan menciptakan akhir penuh kekecewaan.

Risiko dan dampak negatif

Pada kenyataannya, berbagai solusi masa lalu yang tidak melibatkan teknologi informasi sekalipun juga tidak dapat menyelesaikan semua masalah atau membebaskan dari risiko dan dampak negatif yang ada. Begitu halnya metaverse atau teknologi yang lain, sejatinya juga bukanlah obat dewa yang dapat memberi jawaban atau segala masalah dan bebas dari efek negatif.

Untuk itu, melihat secara proporsional dan komprehensif perlu dilakukan di zaman pascakebenaran seperti saat ini, agar kita tidak salah melangkah atau kehilangan manfaat dari keberadaan berbagai teknologi informasi yang sedang berkembang. Sepertinya perlu juga untuk melihat berbagai analogi di masa lalu agar cara memandang bisa lebih berimbang.

Seperti halnya analogi dalam melihat teknologi pembelajaran digital yang dituduh tak dapat menjadi solusi bagi banyak siswa di beberapa tempat yang memiliki kesulitan akses internet. Sudut pandang lain adalah melihat hal itu sebagai bentuk keterbatasan pengembangan jaringan internet dan kualitas jaringan. Suatu bentuk kritik yang diharapkan bisa mendorong ketersediaan jaringan internet di beberapa daerah.

Sama halnya dengan keterbatasan dalam penguasaan materi saat pandemi, di mana pembelajaran daring sering dituduh sebagai penyebabnya. Sudut pandang lainnya, bisa saja melihat hal ini sebagai bentuk keterbatasan dalam pengembangan teknik pengajaran dan pembelajaran secara daring.

Selama ini belum banyak dilakukan pengembangan teknik pembelajaran daring dan variasinya karena sebagian besar pengalaman masih terbatas di dalam pertemuan tatap muka. Hal ini dapat mendorong pengembangan pedagogi dan andragogi menjadi lebih luas.

Dua analogi tersebut menunjukkan bahwa tidak ada obat dewa yang bisa menyelesaikan semua masalah, baik digital maupun nondigital. Namun, pengembangan ke arah yang lebih baik selalu diharapkan untuk dapat menciptakan dunia dan masyarakat yang lebih adaptif.

"Metaverse" tipis-tipis

Kondisi awal pengembangan metaverse saat ini mirip dengan awal pengembangan transaksi jual beli secara digital pada 25 tahun yang lalu. Meskipun sudah tampak menakjubkan dari sisi grafis, masih banyak yang harus dikembangkan agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas di luar kepentingan rapat, diskusi, presentasi, atau menonton pertunjukan langsung di lain tempat secara bersama-sama.

Sampai saat ini, perangkat keras untuk bisa mengakses ke dunia virtual ini juga masih berbiaya besar. Masih dibutuhkan pengembangan, baik dari sisi teknologi maupun kemudahan akses dari sisi perangkat keras yang mungkin tidak bisa terjawab dalam waktu singkat.

Mekanisme untuk membawa produk nyata ke dalam dunia virtual juga masih belum ada. Wujud virtual juga masih belum serupa dengan wujud nyata juga. Begitu pula, kebebasan untuk membangun dunia sendiri juga belum dapat dirasakan oleh pengguna di luar Amerika Serikat dan Kanada.

Namun, metaverse tipis-tipis ini telah menciptakan harapan akan adanya kemudahan untuk bertemu, menjalin komunikasi, mendapatkan layanan, dan mendapatkan akses secara bersama-masa meskipun terpisah ruang.

Di dalam metaverse diharapkan layanan publik dapat makin mudah diperoleh, pemasaran produk dapat semakin interaktif, atau bahkan pertemuan- pertemuan dapat menjadi lebih berkualitas karena pihak-pihak yang terlibat secara fisik bertemu langsung meskipun di dunia virtual.

Keikutsertaan beberapa institusi di luar ataupun dalam negeri pada awal-awal pengembangan dapat dilihat sebagai pengondisian untuk menyiapkan diri dan kemungkinan mengembangkan layanan menjadi lebih baik ketika teknologi ini sudah sampai pada tahapan matang. Sekaligus menyiapkan diri untuk lebih dini dalam mengantisipasi dampak-dampak yang tidak diharapkan.

Apalagi kemungkinan metaverse tidak hanya merupakan dimensi virtual yang didominasi oleh Oculus dari Meta saja, tetapi juga secara kompetitif akan dikembangkan oleh NVIDIA, Microsoft, Huawei, MagicLeap, ataupun yang lain.

Perusahaan-perusahaan tersebut akan menjadikan metaverse lebih beragam dan sangat berbeda dengan konsep awalnya. Masih harus menempuh perjalanan jauh dan waktu yang tidak singkat untuk mencapai kondisi yang ideal.

Selama perjalanan tersebut, perlu cara pandang proporsional dan komprehensif agar menjadi lebih bijak. (Ridwan Sanjaya, Guru Besar bidang Sistem Informasi Unika Soegijapranata)

Tautan:
   


Heboh NFT

(Suara Merdeka, Wacana, 24 Januari 2022)


MESKIPUN NFT sudah ada sebelumnya, gagasan Metaverse oleh Mark Zuckerberg menjelang akhir tahun 2021 telah memicu heboh NFT dan beberapa aset kripto lainnya. Hanya saja, tatkala Syahrani mengumumkan untuk menjual NFT yang dimilikinya, maka nama NFT makin dikenal publik secara luas dan semakin heboh ketika seorang anak muda mendapatkan miliaran rupiah dari foto dirinya yang dipasang di NFT marketplace. Sontak semua merasa ketinggalan dan ingin terlibat di dalamnya.

Seperti yang disampaikan oleh Andrew K Przybylski pada tahun 2013, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau takut ketinggalan peristiwa seringkali terjadi dalam menyikapi berbagai hal baru terutama di dunia digital. FOMO merupakan perasaan yang meyakini setiap peristiwa merupakan kejadian yang tidak boleh dilewatkan. Sehingga proses pengambilan keputusan cenderung tergesa-gesa dan tidak melalui analisis yang matang.

Kejadian ini mengingatkan kita pada fenomena harga tanaman hias yang tiba-tiba menjulang tinggi sehingga banyak orang ingin ikut-ikutan terlibat sampai dengan menjual aset motor dan mobil untuk membelinya. Namun secara tiba-tiba pula harganya turun seharga tanaman hias pada umumnya. Akibatnya, banyak frustasi akibat investasinya tidak kembali. Suatu pelajaran berharga yang mengingatkan kita pada kondisi saat ini.

Apa itu NFT?

Bagi orang awam yang belum mencoba Non-Fungible Token atau disingkat NFT, secara singkat bisa diartikan sebagai sertifikat untuk aset digital yang kita daftarkan. Aset tersebut bisa berupa karya seni digital, perangkat lunak, aset yang didapatkan dalam permainan digital, musik, video, atau bahkan foto-foto yang kita hasilkan, termasuk foto selfie. Karena setiap sertifikat bisa mewakili aset yang berbeda, maka nilai setiap NFT bisa berbeda-beda.

Secara teknologi, NFT menggunakan teknologi blockchain yang membuatnya tetap otentik sejak diciptakan karena tercatat di berbagai tempat dan dapat diverifikasi. Keberadaan teknologi ini membuatnya digolongkan sebagai aset kripto yang sejak lahir menggunakan blockchain dalam pencatatan dan telusurnya. Selain itu, pasar jual-beli NFT menggunakan mata uang kripto untuk pembeliannya.

Apabila ada aset digital yang menarik, dibutuhkan, atau diinginkan, maka nilai NFT bisa semakin tinggi atau bahkan tidak masuk akal bila dilihat dari aset di dalamnya. Namun bukan berarti NFT merupakan penipuan karena jelas bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan untuk menjual karya-karyanya kepada publik. Para desainer, animator, pemusik, pembuat video, dan pemain game merupakan contoh yang diuntungkan dalam bisnis ini. Kondisinya menjadi negatif ketika kita ikut di dalam transaksi-transaksi yang tidak masuk akal, seperti halnya fenomena tanaman hias di atas. Dalam konteks ini, produk yang tiba-tiba menjulang tinggi harganya bisa saja terkait dengan kelompok hobi tertentu, kelompok bisnis spekulatif, atau benar-benar beruntung karena asetnya tiba-tiba dijadikan pilihan untuk ditingkatkan harganya.

Bagaimana Menyikapi?

Pandemi dan percepatan adopsi teknologi telah membuat banyak peluang yang dulunya tidak mungkin menjadi terbuka, terutama dalam hal bisnis. Seluruh dunia menjadi terkoneksi dan memungkinkan kita saling berinteraksi. Transaksi NFT ataupun transaksi aset fisik yang dilakukan secara digital merupakan keniscayaan yang akan kita hadapi pada masa sekarang dan mendatang. Kita perlu mengenal NFT dan aset kripto lainnya agar tidak mudah terkagum-kagum ataupun ketakutan akan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia digital.

Fungsi NFT dalam menjembatani orang-orang kreatif untuk bisa menjual karyanya menjadi kesempatan yang perlu dicoba dan tidak perlu ditakuti. Justru dengan dikenali, dimengerti, sampai dengan menjadi bagian dari hidup sehari-hari akan membuat kita dapat memanfaatkan sisi-sisi positifnya.

Namun tetap sadar dan waspada karena kejadian-kejadian spekulatif dan negatif bukan hanya ada di dunia digital, melainkan justru lebih dahulu ada di dunia fisik. Sehingga jangan sampai terburu-buru dalam mengambil keputusan jika kita memilih untuk menjadi bagian dari bisnis jual-beli aset. NFT. Terutama ketika kita menyadari bahwa aset yang dijual tidak sebanding dengan nilai yang diperjualbelikan.

Selamat memanfaatkan dan memaksimalkan potensi yang ada! Jangan mudah terkagum-kagum ataupun takut yang berlebihan. (Prof Dr Ridwan Sanjaya, guru besar di bidang Sistem Informasi Unika Soegijapranata)


Tautan Lain: Portal Berita Unika Soegijapranata

   


Metaverse - Radio Idola

Ramai-Ramai Metaverse

Suara Merdeka, 18 Desember 2021


Pada saat pandemi, kita diperlihatkan berbagai percepatan adopsi teknologi dan pengembangan teknologi baru untuk manusia bekerja dan hidup di kondisi yang berbeda. Meskipun masih menginginkan untuk kembali ke masa normal sebelumnya, akhirnya banyak pihak menyadari bahwa masa normal yang saat ini sudah tidak bisa sama lagi seperti sebelumnya. Bahkan berbagai hal baru kemudian bermunculan dan memungkinkan untuk mengubah masa depan manusia, salah satunya adalah metaverse atau dunia meta yang disebut oleh Mark Zuckerberg pada saat penggantian nama perusahaannya menjadi meta.    

Setelah CEO Facebook Mark Zuckerberg menyebutkan rencana pengembangan metaverse, sontak istilah tersebut menjadi sangat populer dan semua orang berusaha menebak-nebak bentuk metaverse dalam versinya sendiri-sendiri, seperti analogi ketika penonton film-film Marvel Cinematic Universe (MCU) yang menebak-nebak multiverse Spiderman dalam sekuel No Way Home. Ada tebakan yang sesuai dengan cerita Mark namun ada pula yang meleset jauh, misalnya dalam salah satu pesan WhatsApp yang mencontohkan cloud technology atau teknologi awan sebagai contoh metaverse.

Namun beberapa versi metaverse sesuai dengan deskripsi Mark, seperti permainan daring banyak pemain (multi-player game), uang virtual yang ada di dalam permainan-permainan virtual, aset kripto yang saat ini menghindari disebut sebagai mata uang kripto, atau bahkan bentuk wisuda yang secara fisik hadir secara virtual di Unika Soegijapranata menjadi fenomena yang sudah ada saat ini dan banyak orang yang telah merasakannya. Pendiri Microsoft Bill Gates bahkan meramalkan banyak orang yang berkantor di metaverse tahun depan, meskipun Mark memprediksi bahwa dunia meta akan benar-benar terwujud dalam sepuluh tahun ke depan.

Pada bulan November 2021, pemerintah kota Seoul, Korea Selatan juga mendeklarasikan rencana penerapan metaverse pada tahun 2022 dengan nama “Metaverse Seoul” dan diharapkan selesai tahun 2026. Secara prinsip, penerapan metaverse yang dimaksudkan adalah untuk mendukung pengembangan kota cerdas di sektor ekonomi, pendidikan, budaya, pariwisata, komunikasi, pembangunan perkotaan, administrasi dan infrastruktur. Masing-masing sektor akan melayani warga maupun tamu-tamu dari seluruh dunia yang datang ke metaverse Seoul. Proyek “Metaverse Soeul” ini juga menjadi bagian dari rencana “Visit Seoul 2030” dengan rencana biaya berkisar 3,9 miliar Won atau sekitar Rp. 4,6 miliar. 

Tampaknya kota Seoul tidak mau menunggu konsep ini terbentuk matang dan menggunakannya pada saat sudah mapan, namun memilih untuk bersama-sama mengembangkan ketika konsep ini sedang berkembang. Jika kita melihat mata uang kripto yang berkembang pesat dalam satu dekade terakhir ini dimana banyak negara dibuat terkejut-kejut karena wilayah kekuasaan finansialnya diterobos, langkah kota Seoul bisa merupakan antisipasi kejadian serupa di dalam kasus crypto currency. Penerapan metaverse secara global memungkinkan dampaknya bukan hanya wilayah finansialnya saja, tetapi juga pengelolaan layanan pendidikan, warga, aset, atau potensi bisnis lainnya.

Penggunaan perangkat virtual reality(VR) menjadi salah satu yang paling memungkinkan saat ini untuk mewujudkan konsep metaverse. Bahkan pengembangannya sampai dengan perangkat mixed reality(MR) yang menggabungkan teknologi augmented reality (AR) dengan VR juga terus berjalan. Dalam MR, pengguna tidak merasa seluruh penglihatannya harus ditutupi gadget atau dunia virtual saja, tetapi menyatu dengan kondisi nyata di sekitarnya. Sehingga aset virtual bisa dimungkinkan bergabung dalam dunia nyata, seperti halnya film komedi Free Guy yang baru saja dirilis di tahun ini.

Dalam hal kejahatan di dunia meta, seperti yang dibahas dalam beberapa podcast, dimungkinkan juga terjadi di awal-awal pengembangan, terutama pada saat pengguna baru mengenal dan belum tahu cara mengamankan aset di sana. Hal ini merupakan kejadian yang umum terjadi pada saat awal-awal penggunaan internet, email, media sosial, atau WhatsApp, dimana ada orang yang mencuri akun orang lain, menyamar menjadi orang lain, dan bertindak atas nama orang lain. Ketika semua menjadi terbiasa, memahami, waspada, dan tahu cara menyikapinya, maka kurva kejahatan kemudian akan melandai. Siklus yang umumnya terjadi dalam hal-hal baru.

Meskipun dunia meta atau metaverse sebetulnya bukan hal baru, namun akan menjadi berbeda dan berkembang dengan cepat jika melihat banyak pihak yang berusaha ikut mengembangkan. Tahun 2022 akan menjadi kelanjutan tahun penuh kejutan. (Prof. Dr. Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata)




 

   

More Recent Articles


You Might Like