(Suara Merdeka, Wacana Nasional 6 September 2019) SELESAI studi dari perguruan tinggi dengan predikat apa pun, merupakan bagian dari pencapaian yang dirasakan secara langsung oleh para lulusan, bahkan menjadi sejarah yang akan terus melekat dan ...

Lulusan PT dan Pencerahan Kedua and more...


Lulusan PT dan Pencerahan Kedua

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 6 September 2019)

SM 06_09_2019 Lulusan PT dan pencerahan keDua

SELESAI studi dari perguruan tinggi dengan predikat apa pun, merupakan bagian dari pencapaian yang dirasakan secara langsung oleh para lulusan, bahkan menjadi sejarah yang akan terus melekat dan terceritakan sampai akhir hayat nanti.

Bagi orang tua, pasangan, keluarga, atau teman-temannya, mendengar pengumuman kelulusan atau menyaksikan peristiwa penting saat mereka diwisuda akan menjadi satu peristiwa yang berkesan dan membanggakan. Mungkin dalam waktu-waktu ke depan, peristiwa tersebut akan terus dibawa dan dibagikan kepada orang-orang terdekatnya.

Hal yang sama saya alami pada saat berkunjung ke Vatikan pada hari Minggu yang lalu. Pada saat doa jam 12 siang, Paus Fransiskus mengumumkan pengangkatan Mgr Ignatius Suharyo sebagai satu dari 13 kardinal baru atau pejabat senior dalam lingkup Gereja Katolik Roma. Berada di tengah-tengah peristiwa penting secara langsung, meskipun hanya menyaksikan, menjadi satu peristiwa yang berkesan dan membanggakan.

Namun tidak bisa dimungkiri, lingkungan yang akan ditemui oleh para lulusan dalam beberapa tahun ke depan akan sangat dinamis, yaitu terus berubah, penuh dengan kejutan, memiliki kerumitan yang sebelumnya belum pernah ada, dan menjadi tidak mudah diprediksi.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam pidatonya yang bertajuk “Visi Indonesia ”. Menurutnya, dibutuhkan cara-cara baru, model baru, dan sudut pandang yang berbeda agar bisa menilai dan menghadapi kondisi saat ini, untuk nantinya mendapatkan solusi atas berbagai permasalahan. Hal-hal baru yang dihadapi ataupun cara-cara yang dikerjakan nantinya seringkali berbeda dari kebiasaan yang sudah kita lakukan selama ini. Kadangkala dibutuhkan usaha yang cukup besar untuk mempelajari hal baru tersebut atau bahkan menerapkannya.


Jangan Sinis
Sebagai cendekiawan, cara-cara baru tersebut perlu disikapi dengan skeptis namun jangan secara sinis. Kritis dan analitis menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari dunia perguruan tinggi. Tetapi menjadi konservatif dan kurang adaptif dapat menjadikan kita terlewatkan dari banyak kesempatan dan menjadi tertinggal. Untuk itu, butuh kemampuan agar bisa menarinari di atas perubahan agar kita tidak tergulung oleh ombak perubahan.

Dalam berbagai pertemuan dengan banyak anak muda yang telah selesai dari studinya, mereka terlihat bisa menyesuaikan dengan situasi saat ini. Generasi saat ini telah terbiasa dengan jenis-jenis pekerjaan baru yang tidak populer di generasi sebelumnya. Bahkan pekerjaan formal ataupun jenis pekerjaan-pekerjaan populer yang telah ada sebelumnya seringkali tidak lagi menjadi pilihan bagi mereka. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, mereka bisa membuat pekerjaan baru maupun bekerja bersama dengan banyak orang yang berbeda latar belakang dan kebangsaan, bahkan tanpa pernah bertatap muka secara fisik sebelumnya.

Teknologi informasi dijadikan sebagai papan selancar bagi generasi milenial untuk menjalankan idenya, berkomunikasi, berkoordinasi, dan menghasilkan kreasi. Mereka seringkali mendapatkan berbagai pekerjaan dari perusahaan-perusahaan besar dari berbagai negara dan memperoleh pendapatan yang cukup besar tanpa harus menyebutkan nama besar kampusnya. Perkembangan teknologi informasi telah membuat setiap anak muda berperan dan terlibat dalam berbagai peristiwa penting.

Karya inovasi mereka tumbuh seperti jamur di musim hujan, mentransformasi dunia modern kita. Menurut Skinner (2018), berbagai layanan fisik disatukan oleh mereka dalam wujud layanan digital untuk memberikan solusi kepada masyarakat.

Bagi mereka, teknologi informasi sudah seperti bahasa pergaulan dengan minat dan bakat sebagai konten pembicaraan. Dalam film Bumi Manusia yang novelnya ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, sosok utama bernama Minke atau Raden Mas Tirto Adhi Soerjo melihat zaman modern di akhir abad ke-19 sebagai suatu antusiasme atau semangat masyarakatnya, termasuk di dalamnya sikap dan pandangan, yang didasarkan pada ilmu, estetika, dan efisiensi.

Hal ini tidak ubahnya seperti melihat hingar bingar perkembangan teknologi informasi saat ini. Masa pencerahan di Eropa yang menjadi latar belakang cerita tersebut menjadi mirip dengan masa sekarang, dengan munculnya berbagai inovasi disruptif sebagai bentuk dari semangat untuk melakukan koreksi dan perubahan besar terhadap cara-cara lama, melalui penciptaan platform-platform baru yang lebih efisien. Berbagai penemu muncul pada masa itu dan menjadi sosok yang dikenal sebagai bagian dari berbagai sejarah dan peristiwa penting.

Jika direfleksikan dengan kesempatan yang ada pada masa sekarang, generasi milenial sebagai pemilik masa depan tentunya memiliki waktu yang cukup untuk menjadi bagian dari peristiwa penting pada masa mendatang. Saat ini tak ubahnya seperti Masa Pencerahan yang kedua dengan Teknologi Informasi sebagai tulang punggungnya. Generasi ini dapat menjadi pelaku dari peristiwa penting pada masa-masa mendatang, seperti halnya tokoh-tokoh penemu pada Masa Pencerahan sebelumnya di Eropa.

Peristiwa penting tersebut akan menjadi hal yang berkesan dan membanggakan bagi orang tua, guru, dosen, penasihat, atau teman-temannya, yang menyaksikan dan menjadi saksi sejarah. Untuk itu, saya mengajak para generasi muda untuk mengukir masa depan dengan menjadi bagian dari peristiwa penting dalam peradaban ini!


Prof Dr F Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata Semarang.


Tautan:

    


Keterlibatan Sinergis

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 5 Agustus 2019)

SM 05_08_2019 Keterlibatan Sinergis

MESKIPUN dilahirkan 37 tahun lalu, Unika Soegijapranata pernah mengalami transformasi dari Unika Atmajaya Cabang Semarang pada 1964 menjadi Institut Teknologi Katolik Semarang (ITKS) pada 1973, dan akhirnya menjadi kampus dengan nama saat ini pada 1982. Penggunaan nama Soegijapranata diambil dari nama tokoh dan pahlawan nasional yang menjadi Uskup Agung Semarang dan dimakamkan di Semarang.

Melalui sosok Mgr Albertus Soegijapranata SJ yang menjadi patron pelindung universitas, civitas academica Unika Soegijapranata mendapatkan kesempatan untuk belajar nilai-nilai kebangsaan, kemanusiaan, integritas, pluralisme, dan multikultural. Nilai-nilai tersebut kini menjadi ciri khas yang kuat dalam kehidupan, proses pembelajaran, dan pergaulan di Unika Soegijapranata.

Motto Talenta pro patria et humanitate yang dimiliki oleh kampus yang bersumber pada pesan Mgr Soegijapranata yang berbunyi bakat pemberian Allah jangan hanya kau sembunyikan, persembahkan seluruhnya kepada nusa, bangsa, dan negara menjadi spirit universitas dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi ataupun berbagai aktivitas di dalam masyarakat.

Dalam rangkaian internalisasi nilai-nilai Mgr Soegijapranata, Unika menetapkan tema karya Keterlibatan Sinergis pada satu tahun menjelang usianya yang ke-37. Keterlibatan sinergis ini mempunyai makna setiap orang terlibat secara aktif dan menjadi bagian yang penting dalam setiap langkah bersama, bukan hanya ikut-ikutan atau sekadar mengikuti langkah yang lain. Kesadaran untuk terlibat secara sinergis diharapkan menghasilkan dampak yang lebih besar di masyarakat.

Di dalam komunitas perguruan tinggi, keterlibatan Unika Soegijapranata sebagai penggerak pengembangan pembelajaran digital dan perpustakaan 4.0 bersama perguruan tinggi di lingkungan APTIK se-Indonesia telah menjadi kesempatan untuk bergerak bersama agar dapat menguatkan proses adaptasi perguruan tinggi pada era disrupsi. Begitu halnya dengan kepercayaan dari Kemenristekdikti selama tiga tahun berturut-turut sebagai Perguruan Tinggi Asuh bagi kampus lain di Indonesia yang juga dapat dimaknai sebagai kesempatan dalam melangkah bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi di negeri ini.

Kerja sama pengembangan teknologi informasi dengan Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Semarang dan World Health Organization (WHO) dengan Unika Soegijapranata dalam program Eliminiasi TB dan HIV/AIDS juga merupakan kesempatan yang baik untuk terlibat secara sinergis dengan pemerintah, sehingga diharapkan menghasilkan dampak positif bagi masyarakat dan negara.

Selain itu, program Kuliah Kerja Sinergis (KKS) yang digagas bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kota Semarang menjadi langkah bersama dengan pemerintah yang nyata dalam menggerakkan masyarakat untuk memperbaiki dan menjaga lingkungannya, termasuk pendidikan anak-anak.

Prodi Baru
Kepercayaan pemerintah pada awal 2019 dalam pendirian Program Studi Kedokteran dan Profesi Dokter di Unika menjadi kekuatan kampus ini untuk memulai terlibat secara sinergis dalam membangun dunia kesehatan Indonesia yang humanis dan memiliki integritas yang tinggi.

Kepercayaan ini juga dimaknai sebagai dorongan untuk terlibat secara aktif menjadi kontributor dan penggerak pengembangan kesehatan masyarakat di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) di Indonesia.

Dari sisi mahasiswa, program pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat di wilayah-wilayah tertentu di Jawa Tengah sampai Kepulauan Mentawai dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk belajar memberikan talentanya kepada masyarakat luas melalui sinergi dengan berbagai pihak. Dengan begitu, mahasiswa kelak dapat menjadi lulusan yang etis, kreatif, kritis, peduli, visioner, dan tangguh sehingga memiliki pribadi yang ugahari dan rendah hati agar dapat terlibat secara aktif dan berdampak di masyarakat.

Tentu masih banyak ruang untuk terus berbuat lebih baik lagi dalam rangka keterlibatan sinergis. Keikutsertaan yang sungguh-sungguh dalam membangun individu, komunitas, dan masyarakat seperti yang diajarkan oleh Mgr Soegijapranata menjadi rujukan dalam melangkah dan menjalankan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Saya pribadi meyakini, setiap usaha yang dilandasi dengan ketulusan dan semangat akan selalu menghasilkan dampak yang positif pada orang-orang dan lingkungan di sekitar kita.

-Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS IEC, Rektor Unika Soegijapranata.

    


Refleksi 82 Tahun Ngesti Pandawa

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 9 Juli 2019)

SM 9_07_2019 Refleksi 82 Tahun Ngesti Pandawa

“Kebudayaan warisan leluhur tidak selalu harus direpresentasikan dalam wajah yang lama dan suram”

MERAYAKAN usianya ke-82 tahun, Ngesti Pandawa masih mampu menyuguhkan pertunjukan wayang orang yang menarik untuk ditonton dan diikuti oleh masyarakat dari berbagai lapisan. Hal ini terlihat dari banyaknya penonton yang memenuhi kursi di lantai satu sampai dengan tribune di lantai dua.

Penonton pun bertahan menyaksikan pertunjukan sampai usai. lni bisa dimaknai sebagai petunjuk bahwa sebetulnya pertunjukan seni dan budaya seperti wayang orang masih diminati dan disukai oleh masyarakat, terutama warga Kota Semarang.

Namun keterlibatan berbagai sanggar tari juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari antusiasme masyarakat untuk menonton pertunjukan sampai larut malam. Setiap sanggar sari tampil cantik dan menarik ketika mengawali acara. Artinya, pertunjukan wayang orang bisa menjadi lebih diminati dan menarik antusiasme masyarakat jika menggabungkan keterlibatan sanggar tari yang ada di sekitar masyarakat. Kesempatan untuk tampil di hadapan masyarakat secara luas di Ngesti Pandawa merupakan bagian dari prinsip saling menguntungkan yang dapat diolah.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah keterlibatan tokoh masyarakat di atas panggung, dari unsur birokrat pernerintah, dosen, tenaga kependidikan, dokter, sampai polisi. Tokoh-tokoh masyarakat yang umumnya juga pencinta seni dan budaya itu juga secara langsung ataupun tidak langsung menghadirkan keluarga, kolega. dan teman-teman di lingkungannya.

Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah Dr Sri Puryono KS bahkan menekankan, keterlibatannya dalam pentas di berbagai acara sejenis tidak perlu dihargai secara finansial tetapi dengan kehadiran masyarakat. Artinya, kesediaan tokoh masyarakat untuk terlibat dapat menjadi bagian dari ramuan pertunjukan yang dapat dijadwalkan jauh-jauh hari. Meski bukan profesinya, tokoh-tokoh masyarakat yang terlihat di sana dapat dilihat bermain dengan baik.

Dukungan teknologi cahaya dan komputer cukup menguatkan kesan pertunjukan yang profesional. Narasi cerita di kedua sisi panggung banyak membantu penonton dari generasi muda dalam mengikuti kisah dan nama-nama tokoh wayang orang yang sedang dimainkan di panggung. Meskipun pemain sering menggunakan Bahasa Jawa halus, penonton yang tidak cukup menguasainya tetap dapat mengikuti cerita dan tidak sekadar menikmati adegan demi adegan di panggung.

Jaring Wisatawan
Pertunjukan yang rutin dilaksanakan setiap Sabtu malam merupakan modal untuk menjaring wisatawan yang datang ke kota Semarang. Dalam forum group discussion (FGD) yang diadaluat tahun lalu di Unika Soegijapranata, pengelola perjalanan wisata belurn banyak yang tahu jika pentas diada secana rutin setiap Sabtu tanpa terkecuali. Padahah sejak 2017, beberapa hotel seperti Novotel, Ciputra, Grand Candi, Patra Jasa, dan Grand Arkenso (dulu Horison) dengan dukungan Dinas Pariwisata Jawa Tengah juga membantu menginforrnasikan melalui stand banner di ruang lobi.

Meskipun dalam beberapa tahun ini masyarakat Kota Semarang makin akrab dengan Ngesti Pandawa dan berbagai media sosial secara rutin menginformasikan, selalu ada ruang untuk perbaikan yang dapat dilakukan untuk membuat penonton makin mencintai ikon Kota Semarang ini. Sarana dan prasarana di Taman Budaya Raden Saleh merupakan sesuatu yang punting untuk diperhatikan. Dan pintu masuk, parkir, loket, kamar kecil, ruang penonton sampai panggung pertunjukan perlu menjadi agenda revitalisasi.

Kebudayaan warisan leluhur tidak selalu harus direpresentasikan dalam wajah yang lama dan suram. Penonton bisa saja di bawa dalam suasana nostalgia ketika menonton pertunjukan rakyat pada zaman dahulu, namun juga perlu diajak kembali menonton karena lingkungannya nyaman untuk keluarganya atau bahkan memungkinkannya mengajak tamu-tamu yang dibanggakan, baik domestik maupun mancanegara.

Saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengangkat kembali pertunjukan kesenian wayang orang yang hanya tersisa tiga di Indonesia. Wisata yang membahagiakan semakin dibutuhkan oleh masyarakat yang makin kompetitif perlu didukung oleh lokasi yang nyaman dan fasilitas yang mendukung. Generasi muda masih menginginkan pertunjukan seperti ini. Pentas 82 Tahun Wayang Orang Ngesti Pandawa pada 6 Juli 2019 oleh generasi muda telah membuktikannya.

Selamat ulang tahun ke-82 Wayang Orang Ngesti Pandawa! Semoga makin menjadi kebanggaan warga Kota Semarang dan masyarakat Indonesia.

Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata,, Guru Besar Sistem Informasi, dan peneliti keseniun wayang orang

Tautan:

    


Menemukan Keseimbangan di Era Disruptif Artikel

(Tribun Jateng, Opini – 18 Mei 2019)


Melihat video-video di sebuah kanal Youtube salah satu pemain lama di dunia taksi, tampak terlihat bahwa dunia bisnis bergerak dinamis dan menemukan titik keseimbangannya. Hal ini sama seperti yang terjadi di tengah hiruk-pikuk bisnis taksi beberapa tahun terakhir ini. Melihat geliat Blue Bird yang baru saja meluncurkan taksi listrik BYD e6 dan Tesla model X 75D, perusahaan ini tampaknya bisa bertahan dengan baik meskipun awalnya kesulitan menghadapi era disrupsi.
Investasinya dalam jumlah besar untuk kendaraan-kendaraan yang tidak umum dimiliki oleh pribadi-pribadi yang menjadi mitra pengemudi taksi online pesaingnya, membuat posisi taksi ini bisa berbeda secara signifikan dibandingkan sebelumnya. Usaha tersebut dapat dipandang menjadi gerakan lanjutan dari beberapa inovasi digital dalam aplikasi dan pemasaran yang telah diusahakan oleh perusahaan ini sebelumnya, untuk mengejar ketinggalan di era disrupsi dalam dua tahun terakhir ini.
Seperti yang diilustrasikan di dalam salah satu videonya di Youtube, sebagai pemain lama ia merasa bagaikan kapal besar yang tidak mungkin berbelok dengan lincah namun memiliki kelebihan terkait pengalaman yang lebih lama dalam dunia taksi dan konsumennya. Meskipun menyatakan keinginannya untuk kembali belajar dengan dunia yang baru, pemain lama tidak harus bergerak mengambil langkah yang sama seperti pesaingnya. Justru melalui kelebihannya yang telah dimiliki pada masa sebelumnya, perusahaan ini bisa mengembalikan bisnisnya ke jalur yang sesuai di jaman yang baru.
Sekian lama malang melintang di dunia taksi, Blue Bird masih memliki kelebihan yang belum sirna dari ingatan pelanggannya, terutama dalam hal kenyamanan, keamanan penumpang, dan sistem pengelolaan SDM yang lebih matang. Kepercayaan dan loyalitas pelanggan yang masih ada di dalam benak konsumen bisa mengembalikan posisinya ke semesta yang baru.

Hal ini akan semakin didukung jika sistem tarif taksi jenis ini tidak sama persis dengan taksi online yang ada saat ini, dimana tarif tidak otomatis meningkat dan menjadi lebih mahal ketika hujan tiba, atau pada saat lalu lintas menjadi padat, atau ketika jumlah armada tersedia semakin menipis. Selama ini, ketiga kondisi tersebut dirasakan seringkali meningkatkan biaya pada saat konsumen memesan taksi online melalui gadget-nya.
Penggunan argo ataupun fitur tarif tetap yang dihitung berdasarkan jarak tempuh saja, akan menjadi keunggulan komparatif dibandingkan bisnis taksi online pesaingnya. Jika rumusan tersebut tetap dijaga, taksi sejenis ini akan menjadi pilihan favorit bagi pelanggan yang mulai merasakan kelemahan sistem tarif online pada umumnya.
Di lain pihak, ketika para pemain bisnis baru yang menunggangi gelombang disrupsi mulai terlena dan menghabiskan suntikan dana yang besar dari perusahaan-perusahaan raksasa berskala dunia untuk kepentingan pemasaran dan promosi semata, maka pemain lama justru dapat memperkuat kenyamanan armadanya yang secara model bisnis berada di luar wilayah kekuasaan para pengusaha taksi online. Mereka harus menjadikan hal tersebut sebagai keunggulan komparatif berikutnya sehingga membuat langkahnya tidak dapat ditiru oleh pesaingnya.
Inovasi disruptif yang dilakukan oleh pemain-pemain baru menjadikannya bukan lagi ancaman yang mematikan ataupun tidak bisa dilawan oleh pemain-pemain lama. Narasi kekalahan pemain lama memang bisa terjadi ketika mereka tidak bisa beradaptasi sekaligus menemukan kelemahan dalam model bisnis yang sedang dijalankan pemain baru.
Seperti kita ketahui sebelumnya, salah satu DNA inovasi disruptif yang disebut sebagai "sharing economy“ atau partisipasi bersama dalam kegiatan ekonomi, telah menjadi cara baru dalam pengembangan bisnis secara cepat dengan melibatkan kepemilikan aset mitranya sebagai bagian dari pembagian keuntungan. Namun model ini juga memiliki kelemahan dalam hal kapasitas partisipasi yang sanggup dipikul oleh masing-masing mitra.
Namun kekuatan modal pemain lama juga bukan kunci satu-satunya untuk membawanya kembali ke persaingan bisnis di era yang baru. Kombinasi dengan kelebihan-kelebihan lainnya dapat menjadi kekuatan untuk mendapatkan posisinya kembali.
Sebagai contoh, standar pengelolaan sumber daya manusia yang diterapkan oleh Blue Bird terhadap para pengemudinya selama ini justru dirasakan menjadi kelebihan yang dibutuhkan pada saat sekarang ini. Banyaknya laporan atas sikap mitra-mitra pengemudi taksi online kepada pelanggan, menjadikan pengelolaan sumber daya manusia menjadi hal yang penting bagi pelanggan taksi untuk dijamin hak-haknya sebagai konsumen.
Perbedaan model hubungan kepegawaian antara taksi konvensional dengan para pengemudinya dan perusahaan taksi online dengan mitra pengemudinya memang membuat berbeda pula kekuatan dan kontrol perusahaan terhadap standar perlakuan kepada konsumen. Apabila perusahaan taksi online tidak dapat menemukan solusi atas kelemahan ini, tentunya kelebihan komparatif atas jaminan hak-hak konsumen menjadi milik pemain lama.
Valuasi perusahaan yang sebelumnya menjadi showcase keberhasilan para pemain bisnis yang baru, dimungkinkan tidak lagi menyilaukan mata investor. Asset dan laba perusahaan akan kembali menjadi bagian yang penting dalam pengambilan keputusan. Valuasi perusahaan yang besar tidak lagi menarik ketika perusahaan belum bisa menghasilkan laba. Sebaliknya ketika valuasi perusahaan terbilang lebih kecil dari pemain baru namun perusahaan memiliki asset dan laba yang dihasilkan ternyata lebih besar dan lebih stabil, maka dapat menarik minat pemilik dana jika dibutuhkan perusahaan untuk memperbesar skala bisnis.
Analisa atas inovasi dan kelebihan komparatif yang dieksplorasi pada Blue Bird hanya merupakan salah satu contoh bahwa pemain-pemain baru dengan cara-cara bisnis baru tidak harus dihindari ataupun dilawan dengan regulasi maupun tekanan. Masing-masing inovasi memiliki kelemahan yang dapat dilawan dengan inovasi lainnya dimana menjadi kekuatan bisnis pemain lama.Bagi dunia bisnis yang lain, dimungkinkan berlaku hal yang sama. Asalkan terus bergerak, beradaptasi, keluar dari zona nyaman, dan mencari kekuatan yang bisa dikembangkan, maka bisnis lama bisa saja terus bertahan. (Ridwan Sanjaya, Guru Besar di Bidang Sistem Informasi Unika Soegijapranata)

Tautan

    

Lulusan PT dan Era Society 5.0

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 27 April 2019)


DALAM beberapa tahun ini kita diperlihatkan berbagai terobosan teknologi yang menghasilkan nilai-nilai baru dalam kehidupan manusia melalui bentuk kecerdasan buatan, Big Data, dan Internet of Things (IoT). Kalangan bisnis menyebut ketiganya sebagai inti dari industri 4.0, sedangkan pemerintah Jepang sejak tahun 2016 merumuskannya sebagai masyarakat 5.0 atau society 5.0.
Kedua terminologi ini menekankan adanya interkoneksi data dari berbagai pihak yang terkumpul menjadi Big Data melalui perangkat-perangkat yang terhubung ke internet dan kemudian diolah menggunakan kecerdasan buatan untuk menghasilkan keputusan-keputusan penting di dalam industri maupun kehidupan masyarakat.
Transformasi tersebut akan banyak mengubah wajah bisnis pada masa depan dan cara hidup manusia. Data bukan hanya menjadi bagian penting bagi para manajemen di dunia bisnis, melainkan juga bagi kehidupan masyarakat secara umum.
Sebagai contoh, pada jam-jam sibuk, kita seringkali membutuhkan bantuan aplikasi peta digital untuk menentukan jalur yang akan ditempuh agar sampai di tempat tujuan dengan cepat dan lancar.
Kecepatan dan kualitas supply data ke penyedia peta digital akan menentukan solusi yang paling tepat bagi perjalanan kita, bukan hanya terkait jarak terdekat untuk menuju suatu lokasi tetapi juga jarak tersingkat berdasarkan analisis data terkait kondisi jalan, cuaca, atau bahkan kepadatan lalu lintas.
Hal ini tidak dimungkinkan pada masa-masa sebelumya karena data yang dimiliki tidak cukup banyak untuk dianalisis, belum banyak perangkat-perangkat yang ikut membantu pengumpulan data tersebut, serta variasi data yang tersedia pada saat itu belum mencakup semua kondisi yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan.
Tidak lama lagi, bukan tidak mungkin, ketika seseorang menderita sakit dan segera membutuhkan perawatan, perangkat smartphone atau smartwatch akan mengirimkan data-data kondisi tubuh ke internet untuk diolah oleh pengelola layanan kesehatan sehingga menghasilkan rekomendasi langkah-langkah awal yang harus dilakukan sebelum menuju ke fasilitas kesehatan, pilihan lokasi fasilitas kesehatan yang disarankan, pemesanan ruangan untuk perawatan, atau bahkan pengiriman ambulan untuk membawa pasien ke fasilitas kesehatan yang dituju.
Hal ini bisa dimungkinkan karena adanya data komprehensif untuk menghitung jarak pasien dan fasilitas kesehatan, memantau kondisi pasien secara real-time, mendapatkan informasi ketersediaan ruang yang ada di dalam fasilitas kesehatan, bahkan termasuk memerintahkan ambulan untuk menjemput pada skala prioritas tertentu. Dengan begitu, pasien dapat lebih tertangani sebelum sampai pada tingkatan yang membahayakan.

Perubahan Makna
Beberapa waktu yang lalu, Unika Soegijapranata kembali meluncurkan aplikasi baru dengan nama Dimas yang merupakan singkatan dari Dashboard Informasi Mahasiswa. Melalui aplikasi tersebut, berbagai data yang dihasilkan dari aktivitas mahasiswa kemudian dikumpulkan dan diolah untuk dihasilkan kesimpulan dan saran bagi penggunanya. Mahasiswa selain diperlihatkan tren hasil studinya dari waktu ke waktu, juga diinformasikan prediksi waktu kelulusan berdasarkan rekam jejak selama studi, serta saran untuk mengambil mata kuliah tertentu yang diprediksi dapat meningkatkan hasil studinya.
Analisis data ini dimungkinkan berkembang untuk informasi-informasi lain yang membantu mahasiswa saat studi maupun saat lulus nanti. Melalui analisis data yang ada, lulusan bukan hanya didorong untuk selesai studi dengan baik melainkan juga prosesnya dapat meningkat secara kualitas. Alternatif-alternatif dalam menggali bakat, mendapatkan pengalaman, serta memperluas wawasan dapat disajikan berdasarkan profil dan rekam jejak yang terbaca selama mahasiswa menjalani kuliahnya. Gaya hidup dalam memaknai kuliah dimungkinkan bisa menjadi berbeda dari masa-masa sebelumnya.
Kesiapan generasi muda dalam menghadapi dan beradaptasi dengan era baru di mana peran teknologi di dalam masyarakat menjadi semakin besar adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Teknologi telah menjadi bahasa umum bagi masyarakat saat ini, terutama bagi generasi muda. Berbagai inovasi memungkinkan generasi muda memperluas interaksi dan akses ke dunia yang lebih global. Batasan antarnegara menjadi semakin tidak kentara dan hubungan antarbangsa menjadi lebih cair.
Dalam beberapa tahun terakhir ini, beberapa bisnis rintisan atau start-up dibangun oleh anak muda dengan melibatkan anakanak muda lain dari berbagai bangsa dan lintas negara. Penyokong dana juga seringkali berasal dari perusahaan-perusahaan papan atas yang tersebar di seluruh dunia. Bahkan mereka juga melayani masyarakat di berbagai negara seperti halnya melayani masyarakat di kota-kota lain di negeri ini. Makna masyarakat yang dimaksudkan oleh generasi ini menjadi lebih luas dari sebelumnya.

Kualitas Hidup
Menurut Salgues (2018), teknologi yang dimaksudkan di dalam Society 5.0 diharapkan berperan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Hal ini juga diharapkan terjadi di dunia perguruan tinggi. Meskipun teknologi informasi terus dikembangkan, sentuhan teknologi tidak serta-merta menghilangkan sentuhan manusiawi di dalam kehidupan kampus. Berbagai aktivitas terkait dengan pengembangan soft skill kepemimpinan, kreativitas, komunikasi, kerja sama, kepedulian, kegigihan, maupun disiplin, perlu diselenggarakan dalam berbagai format kegiatan yang bervariasi dalam empat tahun perkuliahan. Suasana untuk membangun kebiasaaan dalam menganalisis sesuatunya secara kritis juga perlu diusahakan terus-menerus.
Semua aktivitas selama empat tahun dapat direkam di dalam sistem informasi dan terkoneksi ke perusahaan penyedia lapangan kerja pada saat membutuhkannya. Harapannya, profil lulusan yang lengkap selama kuliah dapat terbaca dan dimaknai secara utuh oleh perusahaan. Lulusan juga mendapatkan kesempatan yang lebih besar ketika profilnya dapat dimaknai secara lengkap. Dalam hal ini, teknologi informasi menjadi alat bantu dan media yang menjembatani program-program di universitas agar menghasilkan informasi yang lebih bermakna.
Melalui dukungan tersebut, lulusan perguruan tinggi bukan hanya terungkap bakat dan kelebihannya oleh dunia kerja, melainkan juga gairah (passion), dorongan (drive), dan transformasinya selama beraktivitas di kampus. Dengan begitu, mereka dapat lebih mempersiapkan diri terhadap minatnya masingmasing saat menjalani perkuliahan agar tidak hanya angka-angka yang muncul pada saat lulus nanti, tetapi juga kelebihan-kelebihan lain yang terasah bersama komunitasnya di kampus.
— Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata dan guru besar bidang sistem informasi

Tautan:
    

More Recent Articles

You Might Like

Safely Unsubscribe ArchivesPreferencesContactSubscribePrivacy