(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 September 2018) "Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi." BEBERAPA waktu lalu kita dikejutkan ...

“New Normal” dalam Pendidikan Tinggi and more...


“New Normal” dalam Pendidikan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 September 2018)

SM-15-September-2018

"Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi."

BEBERAPA waktu lalu kita dikejutkan oleh dua nama calon wakil presiden yang terpilih sebagai pendamping dua calon presiden. Bahkan ada nama calon wakil presiden yang belum pernah muncul sebelumnya dan merupakan usulan baru dalam beberapa jam terakhir sebelum diumumkan. Meskipun banyak yang terkejut, akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang normal dan harus berjalan. Titik normal baru yang diterima oleh masyarakat tersebut menjadi hal yang kemudian dipahami sebagai kondisi yang wajar.

Berbagai perubahan yang terus terjadi ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai “the new normal”. The new normal merupakan terminologi yang dipakai pada tahun 2009 oleh Philadelphia City Paper saat mengutip Paul Glover dalam menjelaskan kondisi yang semula dinilai tidak umum menjadi sesuatu yang kemudian dianggap biasa, wajar, dan akhirnya diterima secara luas. Pada saat itu, dunia bisnis mencari titik normal yang baru setelah terjadi krisis keuangan pada 2007- 2008 dan resesi global pada 2008- 2012.

Kejutan serupa juga saya alami saat diundang ke Harvard University pada Juli lalu. Saat itu ada kesempatan mendatangi sebuah restoran di kota Boston yang bernama Spyce. Restoran ini memiliki pilihan menu masakan dari berbagai negara yang dapat dipesan sesuai dengan selera dan pantangan pemesannya. Setiap menu masakan juga sudah dihitung kalorinya dan semua pesanan itu dimasak di depan pemesannya dengan urutan berdasarkan antrean.

Namun yang menarik, tidak ada koki yang memasak di restoran itu. Semua dikerjakan oleh robot melalui panci-panci induksi berbasis listrik yang terhubung ke menu pemesanan. Koki terkenal dari Prancis, Daniel Boulud, dilibatkan dalam memberikan jaminan masakan yang dihasilkan. National Sanitation Foundation (NSF) memberikan jaminan terhadap kebersihan dan kesehatan wajan setiap masakan.

Bagi dunia bisnis makanan, kehadiran rumah makan baru dengan kreativitas yang berbeda-beda sudah menjadi bagian dari tantangan rutin yang dihadapi setiap waktu. Berbagai rumah makan muncul dan hilang sewaktu-waktu karena menyesuaikan selera, harga, dan status konsumennya. Namun keberadaan robot yang secara akurat mengatur komposisi bumbu makanan dan panas yang dibutuhkan dalam memasak bisa menjadi tantangan yang berbeda dan kejutan bagi profesi koki di dalam dunia bisnis makanan. Teknologi bisa menjadi normalitas baru dalam bisnis makanan.

 

Menurut Rosabeth Moss Kanter dalam tulisannya “Surprises Are the New Normal; Resilience Is the New Skill” yang dimuat di Harvard Business Review, kejutan-kejutan baru yang kita hadapi merupakan titik normal yang baru. Kejutan ini sering membawa gangguan dan masa sulit bagi banyak pihak, namun kekuatan untuk pulih dengan cepat dan bangkit kembali mengejar ketertinggalan akan menjadi kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut.

Analisis Kritis

Bahkan artikel “Constant Transformation Is the New Normal” yang ditulis oleh Scott Anthony juga menyebutkan bahwa saat ini bekerja dengan baik saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi, mengurai peluang- peluang baru, dan menyediakan ruang untuk berkembang.

Lulusan perguruan tinggi pun diharapkan lebih siap menghadapi kondisi yang disebut the new normal tersebut. Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi. Kompetensi menekankan pada kemampuan dalam menuntaskan pekerjaan secara substantif dan terintegrasi dengan sikap kerja; tidak bergantung pada produk, alat, atau teknologi tertentu. Dengan begitu, kemampuan dan kompetensi yang dimiliki tidak mudah kedaluwarsa oleh perubahan yang cepat berganti sehingga akan menjadi nilai lebih untuk daya saing bekerja ataupun usaha mandiri kelak.

Memahami masa depan sebagai normalitas baru yang bisa sama sekali berbeda dari yang dipelajari sebelumnya saat kuliah menuntut dunia pendidikan tinggi tidak hanya memahami revolusi industri 4.0 pada alat dan teknologi baru semata, tetapi sebagai kenyataan yang akan terintegrasi pada setiap bidang ilmu lulusannya kelak. Menghindari, menghibur diri, ataupun menyangkal akan menyebabkan lulusannya terdisrupsi dan tersingkir dari normalitas baru.

Perguruan tinggi tidak hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk lulus dan bekerja saja atau alih-alih justru berfokus pada penguasaan teknologi semata, tetapi kemampuan analisis dalam melihat peluang dan pengembangan talenta harus diperbesar. Penguasaan softskill menjadi bagian penyeimbang lulusan perguruan tinggi ketika normalitas baru kelak mereka hadapi. Dosen tidak sekadar memikat atau menguasai materi tetapi juga berwawasan luas dan memberikan inspirasi agar setiap individu dapat bertransformasi menghadapi normalitas baru. (40)

–– Prof Dr Ridwan Sanjaya, Rektor Universitas Katolik Soegijapranata, Guru Besar Sistem Informasi.

Tautan:

    


Library 4.0 untuk Perpustakaan Masa Depan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 Mei 2018)

SM-15_05_2018-Library-4.0

PERPUSTAKAAN telah mengalami beberapa kali evolusi dalam perkembangannya. Jika semula perpustakaan berfokus pada koleksi pustaka dan layanan, kini telah bergeser pada nilai tambah (Noh, 2015).

Dengan demikian, perkembangan perpustakaan pada tahapan berikutnya sangat mungkin terjadi dan bisa diciptakan. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan pemustaka dan perkembangan teknologi informasi. Harapannya, berbagai penyesuaian dapat membuat perpustakaan semakin berharga dan memberi dampak yang semakin besar bagi dunia pendidikan.

Keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), big data, internet of things (loT), layanan berbasis cloud, dan alat-alat cerdas, sebagai ciri dari Revolusi Industri 4.0 akan membuat banyak perubahan dunia pendidikan (Grewal, Motyka, & Levy, 2018). Akibatnya, pengelola perpustakaan di berbagai belahan dunia menebak-nebak terobosan berikutnya yang harus dilakukan.

Hal tersebut tidak ada yang salah. Hanya saja, melihat kebutuhan nyata yang ada di dalam dunia pendidikan justru harus menjadi fokus dalam pengembangan perpustakaan. Teknologi informasi dapat mewujudkan apabila kebutuhan dan solusi yang dirancang sudah mulai terbentuk.

Namun berbicara mengenai perpustakaan, tidak hanya membahas mengenai koleksi pustaka yang dimiliki dan pengembangan koleksi pustaka dalam bentuk digital. Masih ada pustakawan yang dapat menjadi nilai jual dan penguat dari keberadaan perpustakaan. Apalagi saat ini koleksi buku ataupun buku elektronik semakin mudah didapatkan dengan prosedur peminjaman dan pengembalian yang lebih mudah dan mandiri, bahkan tidak merepotkan peminjam.

Aplikasi iJakarta, iJateng, iPusnas, dan sejenisnya membuat Anda merasa dimanjakan dalam peminjaman buku ataupun pengembalian secara otomatis ketika masa waktu peminjaman sudah usai. Untuk itu, perlu dirumuskan nilai tambah yang menjadi kekuatan dari perpustakaan masing-masing. Konsep Library 4.0 yang mengadopsi unsur-unsur utama dalam Revolusi Industri 4.0 perlu dikembangkan.

Gambaran perpustakaan tradisional dilengkapi buku-buku dari masa lalu sampai masa kini yang tertata rapi berjajar di di rak-rak, juga meja-meja untuk belajar mandiri, sering ditemui di berbagai lokasi. Mungkin ada juga situasi perpustakaan yang terlihat lebih modern dengan sejumlah komputer untuk akses digital ke internet ataupun pustaka digital. Namun suasana yang sepi dan sunyi menjadi ilustrasi perpustakaan yang melekat dalam banyak orang sehingga menjadikannya sebagai tempat untuk mojok atau menghindari keramaian.

Perpustakaan Inovatif
Keberadaan gawai saat ini membuat layanan perpustakaan juga berubah dari semula mengandalkan lokasi, luasan ruang, kelengkapan koleksi, atau sistem informasi; ke perpustakaan yang dapat menyediakan layanan yarig dapat menjawab kebutuhan dunia pendidikan dalam hal menemukan rujukan berkualitas, penulisan rujukan yang baik, bahkan juga mengantisipasi plagiasi (Sanjaya, 2018).

Apabila aktivitas ini dilakukan dengan baik maka eksistensi perpustakaan pada masa depan akan tetap terjaga. Apalagi jika perpustakaan juga menjadi fasilitator bagi pengembangan konten-konten lokal yang akan menjadi koleksi di perpustakaan terkait Konten lokal meliputi artikel ilmiah ataupun dokumentasi pembelajaran di perguruan tinggi masing-masing. Pengelolaan Massive Open Online Course (MOOC) bukan tidak mungkin akan lebih meningkatkan nilai tambah dan kecepatan berkembangnya jika ditangani oleh perpustakaan.

Koleksi pustaka digital juga harus dikembangkan tidak semata-mata buku, majalah, ataupun jumal tetapi konten lain yang dapat memuaskan dahaga pengetahuan bagi pemustaka. Keberadaan perangkat Virtual Reality memungkinkan perpustakaan untuk mempunyai koleksi pustaka yang lebih menarik dan tampak nyata bagi masyarakat (Goan & Liang, 2015). Konten Virtual Reality bukan hanya tersedia di internet ataupun jasa penyedia konten tersebut, namun juga dapat dikembangkan sendiri melalui aplikasi yang sering tersedia gratis di internet.

Pengembangan asisten virtual yang cerdas dan membantu pemustaka mendapatkan kebutuhannya juga perlu dilakukan agar tetap menarik pemustaka dari generasi muda. Unika Soegijapranata mengembangkan Vanika atau Virtual Assistant Unika, salah satunya untuk tujuan tersebut .

Untuk itu, perpustakaan tidak boleh berhenti berinovasi, ke depan, bisa menjadi tempat untuk menemukan pengalaman yang lebih kaya bagi pemustakanya. Dengan menjadi perpustakaan inovatif, perpustakaan akan selalu hidup, memberikan pengalarnan baru dan menghasilkan nilai tambah bagi orang-orang di sekitarnya dan menjadi paru-paru pengetahuan di dunia pendidikan. (Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS.IEC, guru besar bidang Sistem Informasi, Unika Soegijapranata)

Tautan:

    


Samudera Biru bagi Lulusan Perguruan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 17 April 2018)

    SM-17_04_2018-Samudra-Biru-bagi-Lulusan-Perguruan-Tinggi

      "Pertempuran dengan petahana yang diilustrasikan sebagai Samudera Merah (Red Ocean) menjadi tidak perlu terjadi bahkan dapat menciptakan ruang berkembang baru yang berpotensi melampaui kompetisi yang ada"

      DALAM beberapa waktu terakhir ini dunia pendidikan tinggi selalu diingatkan adanya kemungkinan perubahan radikal yang dapat sewaktu-waktu mengubah peta persaingan dalam berbagai bidang yang juga berdampak pada eksistensi lulusan perguruan tinggi. Kata kunci inovasi disruptif dan industri 4.0 semakin sering disebut dalam berbagai pertemuan, seminar, bahkan menjadi kebijakan perubahan dalam organisasi besar.

      Hal ini punya tujuan baik untuk mengingatkan kita semua agar dapat mengantisipasi dunia yang sangat cepat berubah (volatile), tidak mudah diprediksi (uncertain), semakin rumit (complex), dan multitafsir (ambiguous) yang menurut Whiteman (1998) diistilahkan sebagai VUCA world.

      Menurut Nathan Bennett dan G James Lemoine dalam Harvard Business Review (2014), kondisi tersebut juga harus dihadapi dengan strategi VUCA atau cara pandang yang jauh ke depan (vision), pemahaman yang mendalam (understanding), ketajaman dalam melihat peluang (clarity), dan kelincahan dalam bergerak (agility).

      Hal yang sama juga pernah ditulis oleh Sun Tzu dalam buku Art of War (Feng, 2007), pemahaman akan medan pertempuran akan membuat seorang jenderal dapat mengatur strateginya tanpa harus mengorbankan banyak pihak.

      Data yang tidak lengkap, didasarkan pada asumsi-asumsi, bahkan dipahami secara dangkal, akan menyebabkan seorang jenderal tidak tenang dan lebih mengutamakan pertempuran dengan jumlah pasukan yang banyak dibanding pemahaman yang mendalam akan situasi yang sedang terjadi. Akibatnya, strategi yang disusun sering tidak bisa jauh ke depan dan tidak dapat menangkap peluang yang ada. Akibatnya, pertempuran memakan waktu lama, membuat semangat kendor, dan meningkatkan jumlah korban, bahkan menjadi bencana besar bagi dirinya dan kelompoknya.

      Pencipta Tren

      Bila direfleksikan dengan kondisi saat ini, pemahaman akan peta persaingan secara lebih mendalam dapat menciptakan berbagai peluang. Selain itu, ide-ide baru dapat muncul dan menciptakan pasar baru (market creation) yang berbeda dari sebelumnya. Inovasi yang dihasilkan dapat menjadikannya sebagai pencipta tren, bukan follower atau pengikut ketika orang yang lain sudah sukses.

      Dengan begitu, inovasi yang dilakukan tidak selalu mengganggu pihak lain, tetapi justru menciptakan dan mengembangkan semesta yang baru. Bahkan dimungkinkan fondasi yang dibangun dapat lebih kokoh dibanding pendatang baru.

      Hal ini sesuai dengan konsep Samudera Biru (Blue Ocean) di mana penciptaan pasar baru akan membuat persaingan yang ada saat ini menjadi tidak relevan bagi mereka (Mauborgne & Kim, 2017). Pertempuran dengan petahana yang diilustrasikan sebagai Samudera Merah (Red Ocean) menjadi tidak perlu terjadi, bahkan dapat menciptakan ruang berkembang baru yang berpotensi melampaui kompetisi yang ada.

      Modal Perguruan Tinggi

      Jika Anda pernah menonton film The Greatest Showman, kita akan melihat sosok PT Barnum berhasil menciptakan bisnis baru dalam bidang hiburan yang berbeda dari pementasan lain sebelumnya dan membuka pasar baru dalam dunia hiburan, yaitu keluarga dan anak-anak. Namun pada saat bisnis sirkus sedang mengalami kejenuhan, Cirque de Soleil membuka pasar baru, yaitu penonton dewasa dan mitra bisnis dengan harga yang lebih tinggi dari sirkus tradisional. Keberhasilan usahanya justru melebihi rekor ketika tidak mengambil pangsa pasar yang sama.

      Inovasi non-disrupsi pada era disrupsi seperti dalam konsep Samudera Biru ini memang tidak mudah dilakukan jika kita sudah terpaku pada sosok-sosok yang saat ini sudah berhasil dan tergoda untuk ikut sukses pada lahan yang sama.

      Keberanian untuk menjalankan hal yang berbeda dengan digerakkan oleh adrenaline yang besar, umumnya dimiliki justru oleh anak-anak muda. Terutama lulusan perguruan tinggi, wawasan yang meluas, pengetahuan yang lebih mendalam, keberanian untuk mengambil keputusan, dan penguasaan akan teknologi terkini dapat menjadi modal penguat dalam proses penciptaan dunia mereka yang baru.

      Beruntunglah mereka yang pada saat studi telah mendapatkan cukup waktu dalam berinteraksi secara sosial di kampus, membangun jejaring, meningkatkan kompetensi, dan menguji kelincahan dalam pengambilan keputusan. Mereka telah mengambil kesempatannya untuk berlatih dalam mengembangkan modal tersebut. Organisasi-organisasi mahasiswa dan berbagai kegiatan peningkatan softskill yang dikembangkan di kampus telah menjadi Kawah Candradimuka bagi mereka sebelum terjun di masyarakat. Kini saatnya, modal tersebut diterapkan untuk menciptakan Samudera Biru yang sesuai dengan talenta masing-masing di bidang yang telah dipilih setelah lulus dari perguruan tinggi. (Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata dan guru besar bidang Sistem Informasi)

      Tautan:

          


      E-Book baru, Antisipasi Plagiasi dengan Software Anti-Plagiasi

      Penerbit: SCU Knowledge Media, 2018

      buku-antisipasi-plagiasiSemakin tingginya kesadaran untuk menghasilkan karya orisinal membuat software pemeriksa plagiasi semakin dibutuhkan. Seringkali karena kurangnya perhatian atau pengetahuan yang memadai akan plagiasi, seseorang terjebak dengan tuduhan plagiasi yang sebetulnya belum tentu dia lakukan. Buku ini akan membahas penggunaan perangkat lunak anti-plagiasi Viper, Plagscan, Turnitin, Unicheck, baik penggunaannya secara personal maupun organisasi. Beberapa software anti-plagiasi tersebut bahkan dapat diintegrasikan dengan platform e-learning Moodle yang akan memudahkan dalam pemeriksaan tugas sekolah atau perkuliahan sehari-hari. Buku ini cocok untuk dosen, guru, mahasiswa, pelajar, pengelola platform e-learning, dan penulis.

      Selanjutnya »

          

      Masa Depan Financial Technology

      (Suara Merdeka, Wacana Nasional 1 Februari 2018)

      SM-01_02_2018-Masa-Depan-Financial-Technology

      PERKEMBANGAN internet yang demikian cepat dan perubahan gaya hidup generasi muda membawa dampak pada dunia finansial melalui teknologi keuangan yang dikembangkan secara luar biasa di Indonesia. Namun sejarah mencatat, 10 tahun yang lalu pengguna internet di Indonesia hanya berkisar 20 juta, sangat jauh dari sekarang yang mencapai 132 juta pengguna.

      Saat ini, dengan pengguna internet yang jumlahnya melebihi penduduk negara-negara Asia Tenggara, bahkan sebagian besar negara-negara di Asia, Indonesia menjadi pangsa pasar yang besar, baik dalam hal penggunaannya maupun pengembangannya.

      Setelah e-commerce laris manis dan menjadi primadona transaksi perdagangan dalam beberapa tahun terakhir, pasar keuangan digoyang dengan kehadiran bisnis-bisnis rintisan baru dalam bidang keuangan.

      Konsep dan paradigma mengenai dunia keuangan yang baru menjadi senjata bagi banyak pengusaha muda untuk memulai usaha ini. Meskipun dianggap baru, Bill Gates pernah menyampaikan pada 1994, ”Banking is necessary. Banks are not.”

      Hal itu menggambarkan, aktivitas perbankan meskipun dibutuhkan, wujud fisiknya tidak lagi penting. Pernyataan yang dulu dinilai kontroversial itu seperti mengingatkan dunia perbankan untuk bersiap-siap menyesuaikan diri dengan perubahan yang radikal. Jika tidak, akan tergantikan oleh bentuk baru dari perbankan.

      Peristiwa mantan CEO Nokia Stephen Elop yang pernah menangisi nasib Nokia saat diserahkan ke Microsoft kurang lebih mengingatkan kita akan perubahan pasar yang dinamis. Saat itu dia mengatakan, ”We didn’t do anything wrong, but somehow, we lost”. Meskipun sebagai pemimpin pasar saat itu Nokia tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi tetap kalah dalam kompetisi.

      Keistimewaan sebagai posisi pemimpin pasar sering kali meningkatkan kenyamanan sehingga kemampuan untuk men-disrupsi dirinya sendiri kurang berani. Bahkan untuk mencoba sistem operasi baru saja muncul resistensi yang kuat di internal organisasi.

      Jika dalam organisasi perbankan juga muncul penolakan yang sama seperti dialami Nokia, pasar masa depan bukan saja tidak dapat diraih bahkan pasar saat ini bisa saja terlepas. Financial technology (fintech) di Indonesia saat ini bergerak dengan cepat.

      Nilai pembiayaan fintech di Indonesia dilaporkan terus naik dari tahun ke tahun. Pada 2016, nilai pembiayaannya berkisar Rp 190 triliun, sedangkan tahun 2017 setara dengan Rp 247,65 triliun. Bahkan diprediksi nilai pembiayaan pada 2021 akan naik menjadi Rp 494 triliun.

      Fintech di Indonesia

      Istilah financial technology (teknologi finansial) muncul secara tidak sengaja bersamaan dengan pembentukan Financial Services Technology Consortium pada 1993. Namun salah satu editor Sunday Times pernah menggunakan istilah tersebut pada 1980.

      Menurut Forbes, teknologi finansial sudah berkembang lebih dari 65 tahun yang lalu sejak kemunculan kartu kredit, anjungan tunai mandiri, dan penjualan saham elektronik. Selanjutnya keberadaaan internet dan e-commerce memunculkan berbagai produk finansial berbasis internet.

      Kini, berbagai bentuk fintech yang dapat menjembatani aktivitas finansial dalam masyarakat bermunculan, dari ebanking, dompet elektronik (e-wallet), uang elektronik (e-money), gerbang pembayaran (payment gateway), peminjaman dan pengumpulan dana, serta perencanaan keuangan.

      Dengan kelebihan akses yang tidak terbatas, bisa digunakan atau dikunjungi setiap saat, tidak berbatas lokasi dan bisa komunikasi secara langsung ke masing-masing pribadi, menjadikan teknologi finansial segaris dengan karakteristik generasi muda yang mandiri dan gadget oriented.

      Tidak heran beberapa pengusaha di bidang teknologi seperti Apple dan Google berlomba-lomba masuk ke bidang ini karena merasa lebih memahami perilaku pengguna teknologi. Di Indonesia, lebih dari 180 perusahaan telah dikembangkan dengan bidang teknologi finansial.

      Berdasarkan KataData.co.id, sebagian besar dari perusahaan tersebut bergerak di bidang pembayaran (40%). Bidang pinjaman 23 persen, agregator 12 persen, perencanaan keuangan dan crowdfunding masing-masing 7 persen, bidang lain 11 persen.

      Tujuan penggunaan teknologi sejatinya untuk membuat hidup lebih mudah. Hal ini juga sejalan dengan prinsip dari inovasi disruptif yang fokus pada hal yang lebih cepat, lebih murah, lebih mudah, dan sering kali lebih sederhana.

      Karena itu, pengembangan teknologi finansial juga punya beberapa hal yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah saat ini. Dengan tetap melihat keunggulan perbankan dalam keamanan dan privasi, diharapkan pemanfaatan teknologi finansial dapat meningkatkan kemudahan dalam persetujuan dan transaksi, menurunkan biaya transaksi, mempercepat dana sampai tujuan, mempermudah kustomisasi dengan kebutuhan, serta dapat memanfaatkan teknologi yang saat ini banyak digunakan masyarakat.

      Bagi dunia pendidikan, mereka akan sangat terbantu dengan keberadaan teknologi finansial, terutama dalam hal pengelolaan keuangan perkuliahan siswa atau mahasiswa, layanan tambahan di sekolah atau kampus, pencarian sponsor kegiatan, pembiayaan aktivitas sekolah, serta pengembangan jiwa kewirausahaan. Memahami kebutuhan masyarakat akan menjadi kunci keberhasilan pengembangan bank dalam mengembangan teknologi finansialnya . (Prof Dr Ridwan Sanjaya, guru besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata)

      Tautan:

          

      More Recent Articles

      You Might Like

      Safely Unsubscribe ArchivesPreferencesContactSubscribePrivacy