(Kompas, Opini 8 Maret 2021) Perlu ada literasi digital agar masyarakat semakin mampu mengolah informasi dengan benar dan berperilaku sopan. Jangan sampai karena ketidakmampuannya tersebut, membuat seluruh pengguna Indonesia dinilai tidak beradab. ...

Pentingnya Pendidikan Karakter Zaman Digital and more...


Pentingnya Pendidikan Karakter Zaman Digital

(Kompas, Opini 8 Maret 2021)


Perlu ada literasi digital agar masyarakat semakin mampu mengolah informasi dengan benar dan berperilaku sopan. Jangan sampai karena ketidakmampuannya tersebut, membuat seluruh pengguna Indonesia dinilai tidak beradab.

Meskipun sejatinya istilah netizen atau dalam KBBI disebut warganet dipakai untuk merujuk pada pengguna internet secara umum, akhir-akhir ini terasa memiliki konotasi yang negatif. Ketika membaca komentar-komentar yang tidak nyaman di berbagai media online, seringkali ungkapan “dasar mulut netizen” spontan dikeluarkan.

Istilah netizen menjadi semakin terasa negatif, bukan hanya karena komentarnya yang pedas, tetapi juga yang dirasakan kasar, nyinyir, provokatif, memojokkan, keroyokan, dan juga menyebarkan kebohongan.

Hal ini mengingatkan pada survei Katadata Insight Center (KIC) yang dirilis pada November 2020, dimana menunjukkan bahwa hampir 60 persen orang Indonesia terpapar hoaks saat menggunakan internet.

Ketidakmampuan dalam mengolah informasi dan rendahnya literasi digital menyebabkan mereka tidak bisa bertanggungjawab terhadap berita yang disebarnya.

Seringkali banyaknya penyebar berita hoaks yang sama menjadi semacam justifikasi kebenaran berita dan pembenaran perilaku yang menyimpang. Hal ini tentu saja mempunyai resiko polarisasi opini bagi mereka yang mempercayai hoax dan yang melawan.

Adu balas yang tidak sehat, diskriminasi, dan perundungan untuk mereka yang berbeda pendapat menjadi peristiwa sehari-hari yang kita rasakan di berbagai media sosial.

Penyebaran kebencian secara bersama-sama yang merusak mental, moral, dan rasionalitas masyarakat dimungkinkan menjadi penyebab perilaku warganet yang negatif.

Ketika Microsoft merilis Digital Civility Index atau Indeks Keberadaban Digital tahun 2020 pada bulan Februari 2021, kita baru menyadari kerusakan yang ditimbulkan. Netizen Indonesia menempati posisi ke-29 dari 32 negara yang diteliti oleh Microsoft.

Kesopanan pengguna internet di Indonesia dinilai masih lebih baik daripada di Meksiko, Rusia, dan Afrika Selatan secara global, namun di bawah Singapura, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam di wilayah Asia Tenggara.

Survei yang dilakukan pada bulan April sampai Mei 2020, memperlihatkan skor DCI atau tingkat kesopanan netizen Indonesia turun dibandingkan tahun yang lalu. Semakin banyak masyarakat dari kelompok dewasa yang dinilai makin turun peradabannya. Apakah masih ada kaitannya dengan sisa-sisa polarisasi opini saat pemilihan presiden tahun sebelumnya? Bisa jadi.


Pendidikan Karakter Kekinian

Secara mudah, seringkali masyarakat menyalahkan dan menyerahkan permasalahan ini pada pendidikan karakter yang seharusnya sudah diperoleh sejak masih dalam pendidikan dasar. Atau bahkan dijadikan sebagai bagian dari pengakuan kebebasan berpendapat yang tidak terhindarkan.

Ketidakberdayaan masyarakat akan kondisi ini tercermin dalam keinginan 59 persen responden survei DCI yang meminta perusahaan media sosial agar ikut memperbaiki. Hal ini menunjukkan bahwa begitu ringkihnya bangunan keberadaban masyarakat karena kemunculan media sosial.

Pendidikan karakter juga sudah seharusnya semakin disesuaikan dengan kondisi terkini. Selain cara penyampaiannya yang harus kekinian, juga perlunya memasukkan kemungkinan-kemungkinan yang semakin luas dalam hal komunikasi dan interaksi tanpa batas, tanpa identitas, dan multi platform di zaman digital.

Namun sayangnya di berbagai institusi pendidikan, mata pelajaran atau mata kuliah ini masih sering dipandang sebelah mata oleh siswa karena tidak terkait peningkatan pengetahuan dan keterampilan atau karena cara penyampaian dan konten pembelajarannya yang tidak kekinian.

Di sisi lain, teknologi yang ada telah memanjakan penggunanya terutama dalam hal identitas. Kelebihan yang dimiliki oleh media sosial untuk menyembunyikan identitas alias anonim, menggerakkan massa dalam ruang lingkup yang luas, atau membombardir informasi dalam waktu singkat, memungkinkan penguna internet menjadi sosok yang lebih berani dibandingkan jika bertemu secara langsung.

Peluang untuk memiliki banyak identitas juga memungkinkan pengguna internet menjadi pribadi yang mampu melewati batas-batas norma yang ada di masyarakat.


Identitas masyarakat internet

Kebebasan dalam berpendapat memang seharusnya jangan diberangus, namun sebaiknya diarahkan pada kebebasan yang bertanggungjawab. Namun selama seseorang masih bisa menjadi banyak pribadi, keinginan ini akan sangat sulit untuk diwujudkan.

Jika bercermin pada pemberian status “verified” pada profil-profil tertentu oleh beberapa media sosial, sepertinya profil resmi sebagai masyarakat di internet juga perlu dihadirkan oleh negara.

Meskipun seseorang masih dimungkinkan memiliki banyak profil di dunia maya, identitas resmi yang dikelola oleh negara dapat memudahkan pengguna internet lainnya untuk bersikap mengabaikan atau mempercayai berbagai komentar atau postingannya di media sosial.

Di sisi lain, tetap perlu ada literasi digital agar masyarakat semakin mampu mengolah informasi dengan benar dan berperilaku sopan. Jangan sampai karena ketidakmampuannya tersebut, membuat seluruh pengguna Indonesia dinilai tidak beradab dan membuat malu bangsa. Gara-gara nilai setitik, rusak susu sebelanga! (Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata)

Tautan:

    


Suara Merdeka untuk Generasi Kekinian

(Suara Merdeka, Halaman Utama 11 Februari 2021)

Perkembangan teknologi informasi tidak bisa dipungkiri telah banyak menggerus eksistensi media cetak di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Bukan hanya karena akses informasi bisa diperoleh secara real-time melalui gadget maupun kebiasaan generasi muda yang sehari-harinya mendapatkan berbagai informasi dari gadget, tetapi juga karena cara untuk mendapatkan media cetak umumnya harus melalui berbagai perantara seperti agen koran, penjual koran, atau loper koran. Biaya kertas dan cetak yang terus naik juga menjadi perhatian tersendiri dalam biaya produksi.

Menghilangkan perantara, meminimalkan biaya, dan mempercepat proses merupakan kelebihan teknologi yang selalu disebutkan dalam rantai pasokan atau seringkali disampaikan pada saat menceritakan kisah sukses perusahaan berbasis teknologi di awal abad 21. Dalam survei AC Nielsen juga disebutkan jumlah pembaca media online di tahun 2020 sudah mencapai 6 juta orang, atau lebih banyak dibandingkan pembaca media cetak yang sebanyak 4,5 juta orang.

Beberapa tahun terakhir ini, beberapa media cetak di Indonesia juga akhirnya memutuskan berhenti atau berpindah ke dalam wujud digital. Apakah media online harus menjadi akhir dari media cetak? Apakah disrupsi digital tidak bisa dihindarkan dari media cetak? Berbagai pertanyaan ini juga muncul pada saat Suara Merdeka menginjak usianya yang ke-71.


Modal Kepercayaan

Suara Merdeka memang lahir sebagai media cetak pada 71 tahun yang lalu namun beradaptasi lebih cepat daripada media cetak lain pada umumnya dengan mengembangkan media online dalam bentuk website di tahun 1996 dan membuka kanal video streaming di tahun 2011. Artinya jika dilihat dari sisi adaptasi teknologi, Suara Merdeka telah mempersiapkan diri sejak awal sebelum teknologi informasi mendisrupsi media cetak. Kisah Nokia yang terlambat beradaptasi sehingga akhirnya tersingkir dari kompetisi teknologi gadget, tidak terlihat dalam jejak langkah Suara Merdeka.

Kelebihan dalam hal mutu jurnalisme media cetak yang masih lekat di dalam benak masyarakat mengingatkan kita pada kisah pertarungan bisnis transportasi di Indonesia dimana pemain lama yang mempunyai kelebihan dalam hal rekam jejak, kenyamanan, dan keamanan segera beradaptasi dengan teknologi dan menciptakan keunggulan baru yang tidak mungkin dimiliki oleh pemain baru. Ketika masa bulan madu tarif dengan pemain baru selesai, pemain lama mulai dirasakan keunggulannya dalam hal layanan selain rekam jejaknya yang sudah terpercaya. Mobil-mobil jenis baru yang tidak mungkin dimiliki oleh perorangan menjadi keunggulan tersendiri.

Fenomena clickbait pada media online dimana gambar dan judul bisa berbeda dengan berita di dalamnya dan kemiripan antara berita satu dengan lainnya di media online, atau bahkan kualitas dan kedalaman berita yang minim sehingga pembaca harus mencari berita dari sumber lainnya merupakan masalah dan tugas yang bisa dijawab oleh Suara Merdeka. Kepercayaan yang telah diperoleh selama ini dalam menyajikan berita yang jujur dan diolah terlebih dahulu untuk melengkapi kedalaman berita memang tidak boleh hilang di jaman digital.

Apabila media massa hanya sekedar cepat tetapi ceroboh, cepat tetapi tidak cerdas, maupun cepat tetapi sering salah atau bohong, lama kelamaan akan dirasakan oleh pembaca dan membuat malu mereka yang membagikannya. Kelebihan dalam hal rekam jejak yang baik dan adaptasi dengan teknologi informasi seperti dalam kisah kompetisi bisnis transportasi yang diceritakan sebelumnya, menjadi satu rumus yang dapat menjadi rujukan bahwa tidak selalu pemain baru dengan teknologi terkini akan memenangkan kompetisi sekaligus membuktikan eksistensi pemain lama yang dapat beradaptasi.

Suara Merdeka sebagai media cetak sekaligus media online didukung dengan kepercayaan yang telah terjalin dalam kurun waktu yang lama, menjadi keunggulan yang saling melengkapi dan dibutuhkan oleh pembaca, termasuk generasi saat ini. Pribadi yang cerdas dan tidak termakan oleh hoax, sejatinya merupakan keinginan setiap orang.


Tetap Inovatif
Meskipun Suara Merdeka telah memiliki media cetak dan media online secara bersamaan, integrasi dan kolaborasi keduanya merupakan hal yang dapat menciptakan keunggulan tersendiri bagi media cetak, bahkan mungkin tidak dapat dilakukan jika hanya memiliki media online saja. Kedalaman berita sekaligus kemungkinan untuk penelusuran lebih Ianjut dari dalam media cetak ke media online akan mampu menjawab kebutuhan pembaca-pembaca cerdas, selain kecepatan dalam pemberitaan yang tidak terhindarkan.

Menurut Gartner (2018), fenomena FoMO atau Fear of Missing Out alias ketakutan ketinggalan informasi diprediksi telah menjadi suatu budaya bagi generasi milenial dan generasi Z, yang jika disikapi dengan positif akan menghasilkan pengalaman-pengalaman baru. Hasilnya, akan menjadi daya dorong bagi kita semua dalam menciptakan inovasi-inovasi terbaru sehingga generasi muda merasa kekinian dan keren dalam menggunakannya.

Pemanfaatan Virtual Reality, Augmented Reality, atau bahkan Mixed Reality dalam pemberitaan media cetak juga dapat menciptakan pengalaman-pengalaman baru bagi generasi kekinian maupun pemasang iklan. Di dalam buku Generasi Z yang ditulis David dan Jonah Stillman (2017), gabungan antara dunia fisik dan digital atau disebut sebagai phygital merupakan realitas yang dapat saling melengkapi dan saling menggantikan bagi generasi saat ini. Menjadi media yang jujur dan terpercaya sekaligus mampu memberikan pengalaman baru bagi generasi saat ini, kenapa tidak? Selamat ulang tahun Suara Merdeka ke-71! (Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi dan Rektor Unika Soegijapranata)


Tautan:

    


Generasi Menembus Batas

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 19 September 2020)


Berbagai cara baru di luar kebiasaan, anti-mainstream, atau kreatif- inovatif para lulusan dapat dimungkinkan berkembang ketika mereka dapat dengan cepat merespons perubahan dan melakukan transformasi


HAMPIR satu tahun ini dunia pendidikan tinggi menjalani perkuliahan daring dengan penuh dinamika. Beberapa kampus berhasil menjalaninya dengan lancar, meskipun pada awal penuh gejolak, namun banyak juga yang masih sulit beradaptasi dengan cara-cara baru karena berbagai hal. Memang, tidak semua bisa diselenggarakan untuk menggantikan cara-cara sebelumnya secara daring. Butuh perkecualian-perkecualian yang masih bisa ditoleransi oleh standar masing-masing kampus.

Namun memaksakan untuk memulai perkuliahan tatap muka secara fisik sebelum ada obat penangkalnya akan dipandang tidak bijaksana dan justru akan menciptakan risiko bagi mahasiswa, dosen, atau bahkan orang-orang yang dicintainya di rumah. Sebab, tidak ada satu pun yang tahu mobilitas masing-masing orang yang akan bertemu dalam tatap muka secara fisik. Mengumpulkan mereka dalam jumlah yang besar, akan meningkatkan risiko untuk menciptakan klaster baru penyebaran Covid-19.

Menjadi hal yang luar biasa ketika mahasiswa berhasil mengatasi berbagai kesulitannya dan bisa lulus pada masa sekarang. Meskipun banyak yang meragukan dalam hal kualitas perkuliahan, mereka yang disebut sebagai lulusan era pandemi, merupakan pemenang yang berhasil mengalahkan kondisi sulit dan mampu beradaptasi terhadap perubahan yang mengejutkan. Bahkan, mereka juga bisa disebut sebagai orang-orang yang kreatif karena berhasil menemukan teknik untuk menyelesaikan studinya dalam kondisi yang baru.

Ketika wisudawan lulus dalam situasi sekarang, bukan hanya membuktikan sebagai sosok-sosok istimewa karena berhasil berjuang menyelesaikan studi dengan cara yang tidak sama dengan kebiasaan pada umumnya, tetapi juga terbukti mempunyai kelincahan dan daya tahan yang baik dalam mengelola perubahan.

Praktik kelincahan ditambah dengan daya tahan dalam jangka panjang, atau dalam buku yang ditulis oleh Angela Duckworth (2016) disebut sebagai Grit, dipandang akan menjadi modal yang berharga dalam menghadapi dan membuat terobosan akan masa depan yang konstan akan perubahan.

Pada masa sekarang di mana perubahan cepat sekali terjadi, kelincahan atau agility tidak boleh menunggu lama. Dalam buku Agility yang ditulis oleh Leo M Tilman (2019), disebutkan bahwa kelincahan merupakan faktor penentu yang dibutuhkan dalam mengambil keputusan dan peluang pada era disrupsi. Namun kelincahan bukanlah menjadi tujuan akhirnya atau akhir dari segalanya, melainkan transformasi yang tercipta dan dialami oleh setiap individu.

Berbagai cara baru di luar kebiasaan, anti-mainstream, atau kreatif-inovatif para lulusan dapat dimungkinkan berkembang ketika mereka dapat dengan cepat merespons perubahan dan melakukan transformasi. Kombinasi antara kelincahan, daya tahan, serta kemampuan dalam akademik yang telah diperoleh selama studi diharapkan mewujud dalam lulusan terutama pada era pandemi ini.


Penjaminan Mutu

Dalam buku Doing Agile Right yang ditulis oleh Darrel Rigby (2020) disebutkan bahwa kelincahan dalam menggerakan inovasi harus tetap diimbangi dengan penjaminan mutu yang baik. Perguruan tinggi harus bisa menggabungkan keduanya untuk mengusahakan layanan yang terbaik bagi semua stakeholder, yaitu konservatif dalam kualitas namun progresif dalam inovasi.

Bagi perguruan tinggi, sekali layar terkembang pantang surut ke belakang. Berbagai hal harus diciptakan dan dibuat terobosannya agar kampus bisa tetap lincah dalam menyelenggarakan layanan pendidikan, sehingga masa depan yang sudah dirancang oleh setiap individu tidak menemui hambatan, meskipun pandemi Covid-19 belum kunjung berhenti.

Perguruan tinggi yang menghasilkan terobosan-terobosan untuk menjembatani mahasiswanya dalam menyelesaikan studinya pada masa pandemi dimungkinkan akan tetap menjaga kualitas lulusannya, meskipun kondisinya sedang tidak mudah. Pada umumnya, pemikiran-pemikiran inovatif muncul setelah kampus menyelesaikan masa adaptasinya dalam hal yang paling mendasar.

Berbagai hal mendasar yang harus diadaptasikan dalam kondisi ini bukan hanya terkait dengan pembelajaran secara daring, tetapi juga praktik laboratorium, kuliah kerja nyata, magang kerja, bimbingan, dan ujian tugas akhir, sampai akhirnya diwisuda.

Sekat-sekat yang bisa diatasi oleh kampus dan lulusannya dalam berjalan di atas pandemi akan menghasilkan generasi yang mampu menembus batas. Bukan hanya terkait soal akses internet dan cara belajar yang baru semata, tetapi juga praktik dalam dunia baru dengan kebiasaannya yang berbeda dari sebelumnya. (37)

—Prof Dr F Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata dan Guru Besar Bidang Sistem Informasi.

Tautan:




    


Dunia Figital Generasi Z

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 19 September 2020)




Dengan mengajak Gen-Z untuk tetap berada di kebiasaan yang sama dengan generasi sebelumnya, membuat kepekaan mereka dalam menghadapi perubahan menjadi tidak tajam atau bahkan hilang.

DALAM buku berjudul Generasi Z karya David dan Jonah Stillman (2017), generasi Z atau disingkat Gen-Z disebut-sebut sebagai penduduk asli dunia yang disebut figital (fisik dan digital). Sebutan itu karena sejak lahir mereka telah dilengkapi dengan berbagai teknologi yang memungkinkan mereka untuk menemukan kesamaan berbagai aspek fisik dalam dunia digital. Bagi Gen-Z, dunia nyata dan dunia virtual dapat saling melengkapi dan saling menggantikan. Dengan kata lain, virtual menjadi bagian dari realitas generasi ini.

Gabungan antara fisik dan digital ini telah menjadi realitas baru bagi generasi ini. Tentunya pernyataan tersebut juga bergantung pada aksesibilitas dan interaksi Gen-Z terhadap teknologi yang tersedia selama ini. Namun batas pemisah antara fisik dan digital telah terkikis. Kedua hal tersebut tidak lagi dibandingkan karena keberadaannya di dunia nyata atau di dunia digital, tetapi berdasarkan kualitas, harga atau biaya, penjelasan, ulasan, dan peringkat atau penilaian yang selama ini dipahami oleh semua generasi namun dengan simbol-simbol yang berbeda.

Saat diskusi dengan kolega yang termasuk dalam generasi sebelumnya, kepercayaan terhadap sebuah organisasi biasanya diawali dengan pengalaman perjumpaan dan pemahaman. Namun bagi generasi ini bahkan generasi sebelumnya di masa sekarang, kepercayaan tersebut bisa timbul karena jumlah bintang atau simbol kepuasan sejumlah individu yang lain serta ulasan atau pendapat-pendapat kebanyakan individu di dunia maya.

Mereka seringkali mengandalkan crowd wisdom atau opini kolektif dari individu-individu. Setiap individu tersebut bahkan bukan merupakan sosok yang dikenal publik sebagai tokoh atau influencer yang berpengaruh. Sehingga muncul juga tuduhan bahwa pendapat- pendapat tersebut bisa saja tidak asli atau dimanipulasi sesuai pihak yang berkepentingan. Meskipun bisa saja diatur dengan baik secara digital, harus diakui bahwa kemungkinan tersebut sangat bisa terjadi. Bukankah hal tersebut juga terjadi di dunia nyata selama ini? Dunia digital sering mereplikasi berbagai kebiasaan yang terjadi di dunia nyata.


Mengasah Kepekaan

Berbagai pihak menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 telah mengakselerasi berbagai sisi digital dan seringkali meletakkannya sebagai jawaban yang mendasar dari banyak hal. Untuk itu dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi, perlu juga mengantisipasi realitas baru tersebut dalam wujud pengalaman, praktik-praktik etis dalam pembelajaran, serta kebiasaan- kebiasaan yang disepakati dalam perkuliahan. Sebab mereka nanti akan bekerja dan beraktivitas di masa ketika aspek fisik dan digital berbaur dan saling mengisi. Dengan mengajak Gen-Z untuk tetap berada di kebiasaan yang sama dengan generasi sebelumnya, membuat kepekaan mereka dalam menghadapi perubahan menjadi tidak tajam atau bahkan hilang.

Dalam wisuda Unika Soegijapranata pada September 2020, terdapat cara-cara baru yang menggambarkan gabungan antara fisik dan digital. Jika sebelumnya digunakan teknologi face tracking untuk membuat wisudawan terasa berada di proses wisuda, maka dalam wisuda kali ini ditambahkan augmented reality (AR) atau realitas berimbuh agar wisudawan juga bisa terlibat di dalam wisuda meskipun secara fisik tetap tidak terjadi. Pemindahan kucir wisudawan pada saat wisuda terjadi secara virtual namun dirasakan tetap terselenggara secara fisik. Dengan begitu wisudawan tetap dapat merasakan kebahagiaan saat diwisuda di dunia figital.

Pengalaman figital lainnya juga dapat dirasakan sebelumnya di perpustakaan Unika Soegijapranata. Mahasiswa dapat menyimak resensi buku melalui tokoh virtual yang muncul pada saat smartphone diarahkan ke sampul buku yang disediakan melalui teknologi augmented reality. Mahasiswa juga dimungkinkan untuk mengakses koleksi pustaka yang ada di dunia virtual melalui kacamata virtual reality (VR). Meskipun peminjaman dilakukan di dunia virtual, buku sudah disiapkan di layanan pelanggan saat mahasiswa keluar dari perpustakaan. Selain itu, tokoh hologram akan muncul menyapa para pengunjung dan menjawab berbagai informasi yang dibutuhkan.

Apabila sejak awal mahasiswa sudah dikenalkan dengan berbagai aspek figital, ketika lulus, wisudawan tidak lagi terkejut-kejut melihat hal-hal baru atau bahkan resisten terhadap sesuatu yang baru. Wawasan terhadap masa depan sudah terbuka dan diperkaya, jauh sebelum terjun atau kembali lagi ke dunia kerja. Dengan begitu, langkah wisudawan menjadi lebih ringan dalam memformulasikan berbagai strategi setelah diwisuda ataupun di dunia kerja.

Semua usaha untuk mendekatkan lulusan perguruan tinggi dengan kondisi yang baru akan membantu kita semua dalam mewujudkan talenta- talenta berbakat yang kontributif bagi Tanah Air dan kemanusiaan. Bakat pemberian Allah jangan hanya disembunyikan, namun hendaknya dipersembahkan seluruhnya kepada nusa, bangsa. Talenta pro patria et humanitate! (46)

—Prof Dr F Ridwan Sanjaya, Rektor Unika Soegijapranata dan Guru Besar Bidang Sistem Informasi

Tautan:


    

"The Great Reset" dalam Dunia Pendidikan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 5 Agustus 2020)



Semangat untuk memberikan yang terbaik dan optimisme terus dibangun, bisa menjadi bahan bakar yang tidak pernah habis, meskipun dilanda badai pandemi

SETELAH pandemi Covid-19 menjadi berkepanjangan, para ahli menyerukan “The Great Reset” atau pengaturan ulang tatanan kehidupan yang mendasar secara masif. Istilah tersebut merupakan judul buku dari Richard Florida, seorang professor di Universitas Toronto yang kembali dibicarakan oleh Klaus Schwab, Ketua Eksekutif World Economic Forum, pada Juni lalu. Meskipun bidang yang dibicarakan di dalam forum tersebut tidak menyebutkan dunia pendidikan secara spesifik, namun kelima bidang yang ditawarkan juga ikut terkait dengan dunia pendidikan, tidak terkecuali pendidikan tinggi.

Penggunaan teknologi informasi di dalam dunia pendidikan dalam masa pandemi, telah “meruntuhkan” tembok-tembok kelas yang dulu secara fisik menegaskan bidang ilmu, tingkatan pengetahuan, waktu yang disediakan dalam belajar, atau bahkan bentuk laporan evaluasi penyelenggaraan pendidikan. Rumusan yang paling tepat dalam memberikan solusi pendidikan tidak lagi dapat dipastikan, seperti halnya ketidakpastian vaksin Covid-19 akibat kemungkinannya untuk bermutasi secara cepat.

Namun kondisi ini tidak hanya berlaku di Indonesia, tetapi juga dialami oleh dunia pendidikan secara global, terutama dalam pendidikan tinggi. Kampus-kampus besar dunia, baik di Eropa maupun Amerika, yang terkenal dengan kelebihannya dalam hal teknologi, ternyata juga canggung ketika menghadapi penggunaan teknologi informasi secara masif dan massal. Perubahan yang mendadak telah membuat pemerintah setempat, kampus, dosen, maupun mahasiswa menjadi tunggang- langgang, jungkir-balik, dan kocar-kacir dalam menyikapi, terutama ketika infrastruktur, kebijakan, dan pelatihan belum dipersiapkan sebelum masa pandemi.

Dunia Sedang Di-reset

Berbagai pandangan yang dinilai paling benar bermunculan, meskipun mereka belum benarbenar menjalankan atau bahkan mengujinya. Sejujurnya, tidak ada pendekatan yang paling sempurna dalam kondisi sekarang. Tidak ada resep tunggal yang paling mujarab untuk semua kasus. Hanya semangat untuk memberikan yang terbaik, yang membuat pelayanan kepada mahasiswa tetap berjalan, meskipun kondisi tidak mudah. Dunia ini sedang di-reset dan kita semua mendapatkan kesempatan untuk menjadi yang pertama dalam mendapatkan pengalaman di dunia yang baru.

Momentum yang dapat dimanfaatkan oleh dunia pendidikan saat ini adalah memperkecil atau meniadakan kesenjangan dan ketimpangan dalam hal pendidikan yang tercipta akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Meskipun pemerintah telah mempersiapkan berbagai skenario ataupun kita melihat kondisi nyata terkait infrastruktur di lapangan belum merata, dunia pendidikan perlu menyiapkan berbagai skenario kreatif, agar masyarakat tetap dapat mengakses pendidikan yang layak dan pantas di dalam kondisi terbatas saat ini.

Meskipun kita menyadari bahwa adopsi dan adaptasi teknologi merupakan hal yang tidak terhindarkan, adaptasi dengan kondisi yang riil di lapangan juga harus dilakukan. Berbagai bentuk adaptasi dan temuan solusi akan menjadi momentum bagi kita semua dalam mengawali “The Great Reset” yang terkait dengan dunia pendidikan. Ingat, tidak ada resep tunggal yang paling mujarab dalam semua kondisi. Usaha kita untuk mendekatkan masyarakat pada layanan pendidikan yang menjadi haknya, menjadi bagian dalam peran kita sebagai tabib-tabib maupun tokoh-tokoh perubahan di dalam tatanan kehidupan baru.

Kesiapan Transformasi

Unika Soegijapranata pada usia yang ke-38 pada 5 Agustus 2020 ini, mungkin termasuk yang beruntung mampu melewati satu semester pertama pada masa pandemi, meskipun sejujurnya tidak mudah. Hanya dengan kerja sama yang baik oleh semua pihak melalui dukungan pelaksanaan pembelajaran daring yang konsisten dalam satu semester terakhir, pelayanan dapat berjalan dengan lancar.

Salah satu yang menguntungkan adalah kesiapan teknologi informasi sejak tahun 2000 yang dikembangkan secara masif setelah itu. Tercatat, tahun 2009, 2011, 2014, dan 2017 merupakan titik-titik waktu di mana sistem pembelajaran daring terus dikembangkan untuk mendampingi, melengkapi, bahkan menjadi backup ketika kondisi saat ini terjadi. Ibaratnya, kapal sudah dibangun dan sudah disiapkan tidak jauh dari pantai, di mana pada akhirnya berlayar pada masa sekarang untuk mengarungi samudera ketidakpastian dan diharapkan akan sampai di daratan yang menjadi proyeksi suatu masa depan yang cerah.

Semangat untuk memberikan yang terbaik dan optimisme yang terus dibangun, bisa menjadi bahan bakar yang tidak pernah habis, meskipun dilanda badai pandemi. Ketangguhan, kreativitas, dan kepedulian sivitas akademika terbukti dapat berkembang ibarat jamur pada musim hujan. Berbagai karya akademik dan sosial dari dunia pendidikan justru dihasilkan dengan luar biasa dalam satu semester terakhir ini. Berbagai kanal Youtube mendadak bermunculan dari dosen muda sampai dengan profesor yang tidak lagi muda. Begitu juga dengan tulisan-tulisan dosen yang diterbitkan di media massa maupun dalam bentuk buku.

Selain itu, keterlibatan dosen, tendik, dan alumni dalam hal kepedulian kepada mahasiswa pada masa pandemi ini sungguh menjadi catatan sejarah yang akan terceritakan dalam tahun-tahun yang akan datang. Semua ini ibarat semut keluar dari sarangnya, semua pihak tanpa terkecuali “berhamburan” untuk berbagi dan melakukan aksi sosial di masyarakat. Fenomena yang mungkin tidak mudah kita temukan pada masa-masa sebelum pandemi.

Namun pengelola dunia pendidikan harus menyadari bahwa dibutuhkan usaha lebih keras lagi dan lebih baik lagi untuk bisa melewati masa-masa ini dengan baik, sampai akhirnya masuk dalam tatanan kehidupan yang baru. Selalu masih ada ruang dan waktu untuk melakukan refleksi, evaluasi, dan bertransformasi agar kita menjadi pribadi-pribadi yang semakin siap melayani di dunia pendidikan.

Semangat bersama untuk terus berekspresi, menghasilkan kreasi, dan terkoneksi dengan berbagai kesempatan yang baik di masyarakat dapat menjadi modal yang sangat luar biasa bagi dunia pendidikan tinggi untuk bertransformasi dan menginspirasi banyak pihak. Karena itu, Mgr Soegijapranata pernah menyampaikan pesan bahwa bakat pemberian Allah jangan hanya kau sembunyikan, persembahkan seluruhnya kepada nusa, bangsa, dan negara. Pesan ini kemudian dirumuskan sebagai talenta pro patria et humanitate dan menjadi moto Unika Soegijapranata sampai saat ini.

Tautan:

    

More Recent Articles

You Might Like

Safely Unsubscribe ArchivesPreferencesContactSubscribePrivacy