(Tribun Jateng, Opini - 29 Januari 2019) PENGARUH teknologi informasi dalam mengubah peta bisnis di berbagai belahan dunia telah banyak menjadi fokus pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir ini. Bisnis di bidang transportasi, penginapan, tiket wisata, ...

Ketika (Big) Data Berkuasa and more...


Ketika (Big) Data Berkuasa

(Tribun Jateng, Opini - 29 Januari 2019)


PENGARUH teknologi informasi dalam mengubah peta bisnis di berbagai belahan dunia telah banyak menjadi fokus pembicaraan dalam beberapa tahun terakhir ini. Bisnis di bidang transportasi, penginapan, tiket wisata, hiburan, pakaian, makanan, dan finansial mendapatkan kejutan yang mungkin tidak terprediksi sebelumnya. Dalam bidang tertentu bahkan terjadi penolakan di berbagai tempat, terutama melalui regulasi. Namun tampaknya gelombang inovasi tersebut tidak terhenti.
Keberadaan teknologi dalam inovasi di berbagai bidang tersebut sebenarnya terkait dengan pengelolaan data yang sebelumnya diolah secara manual kemudian digantikan oleh aplikasi. Sebagai contoh, keberadaan sopir taksi dan penumpangnya jika dahulu dicocokkan oleh operator layanan taksi kini berubah menjadi aplikasi, yang mempertemukan data GPS sopir taksi dan penumpangnya. Begitu juga dengan tiket perjalanan yang dahulu dibantu oleh karyawan agen perjalanan, kini berganti menjadi aplikasi yang menelusuri sekaligus membandingkan data moda transportasi dan harga dari berbagai sumber.
Bahkan jika diolah lebih lanjut, data yang dimiliki oleh pengelola aplikasi dapat berkembang menjadi informasi deskriptif atau grafis yang menggambarkan waktu-waktu puncak, lokasi-lokasi favorit yang dikunjungi, pilihan moda transportasi, bahkan rute-rute yang sering digunakan oleh semua pengguna maupun pribadi demi pribadi. Kekuatan data ini akan menjadi dasar pengambilan keputusan bagi pemilik bisnis untuk mempertajam strateginya ataupun meningkatkan kinerjanya.

Melintasi Ruang dan Waktu
Selain itu, melalui jaringan internet, data yang diperoleh maupun diolah dapat melintasi ruang dan waktu. Sebagai contoh, jam tangan cerdas (smartwatch) yang saat ini mulai jamak di tangan masyarakat, dapat digunakan untuk merekam data kesehatan setiap penggunanya. Ketika dihubungkan ke internet melalui berbagai penerapan konsep Internet of Things (IoT), maka data kesehatan tersebut dapat diolah dan dianalisa untuk membuat suatu kesimpulan yang dibutuhkan oleh pengguna.
Konsep Internet of Things memungkinkan berbagai perangkat di sekitar kita dapat terhubung ke intemet, menggunakan maupun menyimpan berbagai data yang dibutuhkan, dan diakses oleh sistem yang terkait. Berbagai data yang dikumpulkan oleh perangkat tersebut menjadi Big Datauntuk kemudian dapat diolah oleh server maupun dianalisa oleh ahli di bidangnya dalam membuat suatu kesimpulan yang dibutuhkan oleh pengguna.
Ketika data ini diizinkan untuk dihubungkan oleh pengguna teknologi informasi di rumah sakit, maka pengguna dapat diingatkan dan diberikan perawatan ketika muncul gejala atau bahkan jauh sebelum terjadinya serangan. Tindakan antisipasi ini tentunya akan banyak menolong penggunanya dalam memelihara kesehatannya.
Namun yang menjadi tantangan, jika data tersebut dihubungkan dengan rumah sakit di berbagai belahan dunia, maka persaingan industri rumah sakit tidak lagi terbatas pada wilayah tertentu saja tetapi sudah lintas negara.
Kualitas, kepercayaan, dan harga layanan rumah sakit menjadi keniscayaan yang akan menentukan pasien dalam memilih rumah sakit yang merawatnya. Namun segala regulasi yang membatasi keberadaan industri rumah sakit di wilayah tertentu menjadi tidak relevan bagi rumah sakit cerdas (smart hospital). Apalagi frekuensi dan biaya transportasi udara saat ini semakin memudahkan pasien kalangan tertentu untuk bepergian lintas negara.
Meskipun keberadaan dokter dan perawat dalam kondisi ini masih dibutuhkan, namun keberadaan rumah sakit pada wilayah tertentu bisa saja terancam, atau paling tidak segmen tertentu dari rumah sakit di wilayah tersebut bisa saja berpindah. Kondisi lama yang menjadi keistimewaan dan proteksi bagi industri ini menjadi tidak lagi mampu menahan persaingan dan akan menjadi kondisi baru yang mungkin berbeda sama sekali dari kondisi yang didapatkan sebelumnya.
Bagi dokter yang mampu menyediakan layanan koneksi data tersebut, tentunya akan menjadi bentuk layanan baru yang akan memudahkan pasien sekaligus meningkatkan minat masyarakat terutama pada segmen tertentu untuk layanan kesehatan yang diberikan oleh dokter tersebut. Jika hal ini menjadi umum, besar kemungkinan antisipasi terhadap gejala penyakit maupun serangan terhadap organ vital tubuh pada masyarakat dapat menjadi lebih besar.

Data Menjadi Primadona
Kekuatan dan kumpulan data yang besar dan terkoneksi melalui internet bukan hanya akan membuat penguna menjadi lebih mudah, cepat, dan nyaman dalam mengakses layanan yang sesuai dengan kebutuhannya, tetapi juga menjadikan batas-batas wilayah dan regulasi menjadi semakin bias. Apabila pengelola layanan maupun pemilik bisnis dapat segera menyiapkan diri lebih dini, maka strategi dalam melayani dan mengelola klien dapat dipersiapkan lebih awal.
Sifat data yang sangat cair, yaitu bebas melintasi berbagai media sejauh diizinkan oleh pemiliknya, memungkinkannya kelak menjadi rebutan banyak pengelola layanan yang ingin merebut hati penggunanya. Dengan modal data yang besar tersebut, informasi yang dihasilkan akan menjadi ujung tombak bagi kepuasan layanan yang ditawarkan. Keahlian dalam mengolah data juga semakin menjadi kebutuhan yang krusial. (Ridwan Sanjaya, Guru Besar di Bidang Sistem Informasi Unika Soegijapranata)
    


Dilema seorang penemu

(Beritagar, Telatah - 23 Januari 2019)

Tahun 2018 yang penuh antusiasme dan hingar bingar teknologi baru maupun cara-cara baru dalam berbagai aktivitas masyarakat modern ternyata menyisakan tanda tanya keberlanjutannya. Namun filsuf Yunani Heracletos (540-480 SM) telah jauh-jauh menyatakan bahwa nothing endures but change, atau tiada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri.

Artinya, inovasi-inovasi yang tercipta hanya baru pada masanya saja dan tetap bisa tergantikan dengan yang lebih baik. Tidak ada yang abadi.

Mengikuti perubahan yang tiada henti seringkali menciptakan kelelahan bahkan keputusan untuk berhenti. Obrolan selama perjalanan pulang dengan sopir taksi bandara yang berusia 62 tahun menyiratkan bahwa dirinya sudah tidak sanggup lagi mengikuti perkembangan taksi sekarang ini. Meskipun setahun yang lalu taksinya juga telah dipasang aplikasi pemesanan secara daring, akhirnya dia menyerah dan mengambil keputusan untuk berhenti dari taksi konvensional, kemudian bergabung dengan taksi bandara yang tidak dikejar-kejar setoran.

Alasannya, dia merasa cara yang baru tersebut lebih cocok untuk generasi yang baru. Meskipun dirinya sudah berusaha belajar sekuat tenaga, tetap saja tidak tak satupun kebiasaan baru bisa dijalaninya. Ia memilih menepi dari hiruk pikuk arus utama dan menjalani pola kerja yang lebih sesuai dengan dirinya, serta melayani captive market yang seringkali juga memilih tidak berubah atau tidak bisa berubah.

Artikel ini selanjutnya dapat dibaca di situs Beritagar...

Kisah ini mungkin banyak dialami oleh orang-orang di sekitar kita, atau bahkan kita sendiri. Ada kalanya kita tidak bisa berubah karena usia atau fisik, namun ada juga karena ketiadaan kemauan untuk berubah. Seringkali karena melihat cara yang tersedia saat ini masih baik-baik saja, kekhawatiran akan hal baru yang belum pasti masa depannya, tuntutan untuk belajar kembali akibat perubahan yang sedemikian cepat, atau bahkan karena tidak sesuai dengan cara pandang kita saat ini.

Apapun yang menjadi penyebabnya, perubahan tetap terjadi dan kerap kali melintas di depan mata kita. Menghentikannya, mungkin hanya akan berhasil sementara waktu saja. Bahkan di berbagai wilayah, perubahan yang sama bisa saja telah terjadi dan menjadi hal yang wajar, melengkapi struktur masyarakat di sana, atau menjadi kebiasaan baru yang akhirnya menghasilkan kenyamanan. Meskipun kadangkala juga terjadi berbagai kustomisasi yang menyesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.

Dilema penemu

Kehausan akan penciptaan inovasi baru yang menyingkirkan pemain lama atau bahkan generasi lama, menciptakan dilema tersendiri bagi kemanusiaan. Terutama yang tersingkir bukanlah petahana dalam arti pemilik bisnis atau investor, melainkan orang-orang yang telah lama bekerja mendukung sistem lama.

Ketika sudah tidak sanggup lagi mempelajari hal yang baru atau sistem baru tidak lagi membutuhkan mereka, kemana mereka akan melanjutkan hidupnya. Apakah tersingkir dan terlupakan begitu saja, atau ada jalan yang bisa menjadi pintu keluar bagi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan ini memenuhi benak dalam satu tahun terakhir di tengah-tengah usaha untuk menghasilkan hal-hal baru yang dapat membantu generasi baru dalam menyongsong masa depan. Dalam berbagai pendapat umum, dorongan untuk melakukan adaptasi terus disuarakan. Jika tidak bisa beradaptasi, maka mereka yang kuat atau pintar sekalipun akan punah seperti yang disimpulkan dari buku On the Origin of Species yang ditulis oleh Charles Darwin.

Membayangkan “kepunahan” mereka-mereka yang saat ini terdesak oleh kemunculan berbagai inovasi merupakan hal tragis yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Tergantikan secara alamiah merupakan kisah happy-ending yang diharapkan oleh banyak orang. Sementara yang lain hingar bingar oleh beragam karya inovatif, mereka tersudut dalam senyap dan keheningan.

Kalimat-kalimat yang menghibur seperti halnya pekerjaan baru akan muncul menggantikan pekerjaan yang lama, juga terasa menyesakkan. Karena pekerjaan-pekerjaan baru tersebut seringkali juga tercipta untuk generasi muda sebagai akibat dari perubahan gaya hidup anak muda. Profesi baru seperti Youtuber, Gamer, Make-up Artist, Barista, dan sejenisnya bahkan menjadi hal yang asing bagi generasi sebelumnya. Sedangkan pekerjaan-pekerjaan lama kini membutuhkan ketrampilan yang lebih tinggi.

Tidak ada resep tunggal

Berpindah ke lingkup pekerjaan dengan ketrampilan yang sama seperti pekerjaan sebelumnya, seperti halnya sopir taksi dalam kisah di awal tulisan ini, merupakan solusi jangka pendek yang harus selalu dievaluasi. Selain itu, pemerintah Singapura memiliki contoh kebijakan dalam memberikan insentif berupa subsidi ketika perusahaan mempunyai program untuk melatih kembali pekerjanya. Dengan begitu, mereka tidak harus tersingkir dari pekerjaan yang keterampilannya dituntut untuk lebih meningkat.

Bagi dunia bisnis, kondisi ini juga bisa menjadi tantangan bagi para penemu untuk menghasilkan inovasi berupa platform yang lebih sesuai dengan teknologi yang lebih sederhana bagi penggunanya. Platform tersebut dapat menjadi peluang dan kesempatan baru, bukan hanya bagi mereka yang membutuhkan tetapi juga bagi dunia bisnis. Jumlah yang besar akan menjadi kekuatan bagi dunia bisnis yang bisa menggerakkan melalui platform baru yang lebih sesuai.

Mengadaptasi pernyataan pebisnis kondang Amerika Serikat, Martha Stewart, bahwa tidak ada resep tunggal untuk sukses, begitu pula dengan kondisi di atas. Tidak ada resep maha-manjur untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Keterlibatan strategi individu, kebijakan pemerintah, atau bahkan inovasi para penemu yang dikolaborasikan bersama akan memperpanjang eksistensi mereka sampai kisah “happy-ending” tiba. (Ridwan Sanjaya adalah guru besar di bidang Sistem Informasi Unika Soegijapranata Semarang)

Sumber: Beritagar.id

    


Tatanan Dunia Baru

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 Desember 2018)

SM-15_12_2018-Tatanan-Dunia-Baru-_hal_04

BEBERAPA waktu lalu salah satu calon presiden menyampaikan keprihatinannya akan masa depan generasi muda yang memilih menjadi pengemudi ojek online daripada menjadi pengusaha, pilot, atau sejenisnya. Sebagian masyarakat kemudian bereaksi dengan menekankan informasi terkait penghasilan yang diperoleh pengemudi ojek online. Artinya, penghasilan yang didapatkan oleh pengemudi ojek online bukanlah sekedar angka yang minimal untuk kehidupan berkeluarga.

Namun hal ini sepertinya juga dirasakan oleh banyak pihak yang melihat dan membandingkan profesi pilihan generasi muda saat ini dengan profesi yang dipilih oleh generasi sebelumnya pada masanya dahulu. Sesuatu yang dulunya dianggap tidak perlu menjadi pekerjaan, kini menjadi profesi yang digemari anak muda. Sebagai contoh, jika sebelumnya merekam aktivitas berlibur merupakan kegiatan dokumentasi pribadi yang dibuka secara terbatas, saat ini telah terbuka untuk publik dan menjadi pekerjaan dengan nilai ratusan juta sampai puluhan miliar rupiah.

Begitu juga dengan barista atau peracik kopi yang kini telah menjadi salah satu profesi yang paling diminati anak muda. Padahal bagi generasi sebelumnya, aktivitas sebagai ”tukang kopi” ini bukanlah bagian dari cita-cita dan memiliki peminat dengan kalangan terbatas. Begitu juga pemain game atau gamer yang semula merupakan bagian dari hobi sering kali menciptakan sumber perselisihan bagi para orang tua ketika anak-anaknya menyampaikan ingin menjadikannya sebagai profesi.

Di dalam buku When Millenials Take Over, Jamie Notter dan Maddie Grant mengajukan satu pertanyaan reflektif terkait pilihan yang diambil generasi muda saat ini sebagai suatu kesalahan atau pertanda adanya aturan baru dalam era saat ini? Hal ini mengingatkan saya pada Ir Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, yang menyampaikan pidatonya di Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 30 September 1960 dengan judul ”To Build The World a New” atau ”Membangun Dunia Kembali”.

Soekarno pada saat itu juga menekankan adanya kesadaran akan keseimbangan baru yang akan terjadi dan menyatakan tidak harus mempertahankan dunia yang dikenalnya saat ini, melainkan berusaha membangun suatu dunia baru, yang diharapkan lebih baik sehingga dapat memperbaiki keseimbangan dunia yang lama.

Dunia Paralel
Dunia ini sejatinya paralel, meskipun menempati ruang dan waktu yang sama, belum tentu memiliki kesamaan pandangan sesama penghuninya. Hal ini juga terjadi pada generasi yang berbeda, seperti generasi Y yang saat ini mulai mendominasi dunia kerja dengan generasi Babbyboomer atau generasi X dari masa sebelumnya.

Ketika menyebut nama artis, dua generasi sebelumnya cenderung menyebut nama-nama artis dari tontonan film di layar kaca atau mungkin layar lebar. Namun bagi generasi Y dan Z, mereka bahkan sering tidak tahu nama-nama yang disebutkan oleh orang tuanya dan menyebut nama-nama asing dari layar Youtube.

Meskipun bidang yang dilihat sama, cara memandang dunia yang berbeda telah menjadi representasi dari masing-masing generasi. Bahkan McKinsey Global Institute telah memprediksi banyak pekerjaan yang dulu jadi primadona akan hilang. Namun pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah ada justru akan menjadi pilihan bagi generasi muda. Bahkan menurut Yuval Harari, penulis buku Sapiens dan Homo Deus, pekerjaan yang membutuhkan kreativitas akan mempunyai masa depan yang lebih menjanjikan.

Tatanan baru dunia atau new world order setiap pergantian generasi sepertinya tidak bisa dihindari. Dibutuhkan bekal bukan hanya pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pengalaman, wawasan, dan kewaspadaan dalam menyambut tatatan baru itu. Pengalaman baru yang didapatkan di dunia pendidikan dimungkinkan terjadi melalui kesempatan untuk berjejaring lintas bidang ilmu, lintas agama, lintas budaya, lintas generasi, bahkan lintas negara. Kerja sama yang telah dibangun oleh dunia pendidikan memungkinkan siswa dan lulusannya mengambil kesempatan- kesempatan tersebut.

Melalui perjumpaan dengan pengalaman baru, wawasan setiap pribadi bisa lebih kaya, terbuka, dan adaptif terhadap perubahan. Ketika keseimbangan atau tatanan baru dunia terjadi, generasi muda diharapkan dapat semakin memperbaiki tatanan dunia yang lama. Sering kali perubahan ini mengejutkan bagi generasi Babbyboomer ataupun generasi X, namun generasi ini akan menjadi generasi yang paling beruntung melihat berbagai perubahan radikal yang telah terjadi pada masa lalu ataupun masa depan.

Mengutip pernyataan bijak yang pernah disampaikan oleh salah satu rekan di dalam grup diskusi, sebagai pendidik, telah menjadi suatu kesadaran bahwa saat ini adalah eranya generasi muda yang sering dirasakan berbeda jauh dengan generasi sebelumnya.

Untuk itu, adalah sebuah keharusan membantu generasi muda menyongsong masa depannya tanpa khawatir akan tergantikan. Sebab, secara alamiah generasi sebelumnya akan mundur dan tergantikan oleh generasi baru, karena sejatinya generasi muda adalah masa depan kita semua. Pilihan mereka saat ini merupakan representasi perubahan tatanan dunia.

–– Prof Dr Ridwan Sanjaya, Rektor dan Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata Semarang.

Tautan:

Portal Berita Unika Soegijapranata

    


“New Normal” dalam Pendidikan Tinggi

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 September 2018)

SM-15-September-2018

"Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi."

BEBERAPA waktu lalu kita dikejutkan oleh dua nama calon wakil presiden yang terpilih sebagai pendamping dua calon presiden. Bahkan ada nama calon wakil presiden yang belum pernah muncul sebelumnya dan merupakan usulan baru dalam beberapa jam terakhir sebelum diumumkan. Meskipun banyak yang terkejut, akhirnya dipahami sebagai sesuatu yang normal dan harus berjalan. Titik normal baru yang diterima oleh masyarakat tersebut menjadi hal yang kemudian dipahami sebagai kondisi yang wajar.

Berbagai perubahan yang terus terjadi ini menciptakan kondisi yang disebut sebagai “the new normal”. The new normal merupakan terminologi yang dipakai pada tahun 2009 oleh Philadelphia City Paper saat mengutip Paul Glover dalam menjelaskan kondisi yang semula dinilai tidak umum menjadi sesuatu yang kemudian dianggap biasa, wajar, dan akhirnya diterima secara luas. Pada saat itu, dunia bisnis mencari titik normal yang baru setelah terjadi krisis keuangan pada 2007- 2008 dan resesi global pada 2008- 2012.

Kejutan serupa juga saya alami saat diundang ke Harvard University pada Juli lalu. Saat itu ada kesempatan mendatangi sebuah restoran di kota Boston yang bernama Spyce. Restoran ini memiliki pilihan menu masakan dari berbagai negara yang dapat dipesan sesuai dengan selera dan pantangan pemesannya. Setiap menu masakan juga sudah dihitung kalorinya dan semua pesanan itu dimasak di depan pemesannya dengan urutan berdasarkan antrean.

Namun yang menarik, tidak ada koki yang memasak di restoran itu. Semua dikerjakan oleh robot melalui panci-panci induksi berbasis listrik yang terhubung ke menu pemesanan. Koki terkenal dari Prancis, Daniel Boulud, dilibatkan dalam memberikan jaminan masakan yang dihasilkan. National Sanitation Foundation (NSF) memberikan jaminan terhadap kebersihan dan kesehatan wajan setiap masakan.

Bagi dunia bisnis makanan, kehadiran rumah makan baru dengan kreativitas yang berbeda-beda sudah menjadi bagian dari tantangan rutin yang dihadapi setiap waktu. Berbagai rumah makan muncul dan hilang sewaktu-waktu karena menyesuaikan selera, harga, dan status konsumennya. Namun keberadaan robot yang secara akurat mengatur komposisi bumbu makanan dan panas yang dibutuhkan dalam memasak bisa menjadi tantangan yang berbeda dan kejutan bagi profesi koki di dalam dunia bisnis makanan. Teknologi bisa menjadi normalitas baru dalam bisnis makanan.

 

Menurut Rosabeth Moss Kanter dalam tulisannya “Surprises Are the New Normal; Resilience Is the New Skill” yang dimuat di Harvard Business Review, kejutan-kejutan baru yang kita hadapi merupakan titik normal yang baru. Kejutan ini sering membawa gangguan dan masa sulit bagi banyak pihak, namun kekuatan untuk pulih dengan cepat dan bangkit kembali mengejar ketertinggalan akan menjadi kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi berbagai perubahan tersebut.

Analisis Kritis

Bahkan artikel “Constant Transformation Is the New Normal” yang ditulis oleh Scott Anthony juga menyebutkan bahwa saat ini bekerja dengan baik saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk beradaptasi, mengurai peluang- peluang baru, dan menyediakan ruang untuk berkembang.

Lulusan perguruan tinggi pun diharapkan lebih siap menghadapi kondisi yang disebut the new normal tersebut. Kemampuan untuk menganalisis secara kritis menjadi salah satu keunggulan yang harus dikembangkan; tidak terjebak semata-mata pada penguasaaan alat atau teknologi. Kompetensi menekankan pada kemampuan dalam menuntaskan pekerjaan secara substantif dan terintegrasi dengan sikap kerja; tidak bergantung pada produk, alat, atau teknologi tertentu. Dengan begitu, kemampuan dan kompetensi yang dimiliki tidak mudah kedaluwarsa oleh perubahan yang cepat berganti sehingga akan menjadi nilai lebih untuk daya saing bekerja ataupun usaha mandiri kelak.

Memahami masa depan sebagai normalitas baru yang bisa sama sekali berbeda dari yang dipelajari sebelumnya saat kuliah menuntut dunia pendidikan tinggi tidak hanya memahami revolusi industri 4.0 pada alat dan teknologi baru semata, tetapi sebagai kenyataan yang akan terintegrasi pada setiap bidang ilmu lulusannya kelak. Menghindari, menghibur diri, ataupun menyangkal akan menyebabkan lulusannya terdisrupsi dan tersingkir dari normalitas baru.

Perguruan tinggi tidak hanya mempersiapkan mahasiswanya untuk lulus dan bekerja saja atau alih-alih justru berfokus pada penguasaan teknologi semata, tetapi kemampuan analisis dalam melihat peluang dan pengembangan talenta harus diperbesar. Penguasaan softskill menjadi bagian penyeimbang lulusan perguruan tinggi ketika normalitas baru kelak mereka hadapi. Dosen tidak sekadar memikat atau menguasai materi tetapi juga berwawasan luas dan memberikan inspirasi agar setiap individu dapat bertransformasi menghadapi normalitas baru. (40)

–– Prof Dr Ridwan Sanjaya, Rektor Universitas Katolik Soegijapranata, Guru Besar Sistem Informasi.

Tautan:

    

Library 4.0 untuk Perpustakaan Masa Depan

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 15 Mei 2018)

SM-15_05_2018-Library-4.0

PERPUSTAKAAN telah mengalami beberapa kali evolusi dalam perkembangannya. Jika semula perpustakaan berfokus pada koleksi pustaka dan layanan, kini telah bergeser pada nilai tambah (Noh, 2015).

Dengan demikian, perkembangan perpustakaan pada tahapan berikutnya sangat mungkin terjadi dan bisa diciptakan. Hal ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan perkembangan pemustaka dan perkembangan teknologi informasi. Harapannya, berbagai penyesuaian dapat membuat perpustakaan semakin berharga dan memberi dampak yang semakin besar bagi dunia pendidikan.

Keberadaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), big data, internet of things (loT), layanan berbasis cloud, dan alat-alat cerdas, sebagai ciri dari Revolusi Industri 4.0 akan membuat banyak perubahan dunia pendidikan (Grewal, Motyka, & Levy, 2018). Akibatnya, pengelola perpustakaan di berbagai belahan dunia menebak-nebak terobosan berikutnya yang harus dilakukan.

Hal tersebut tidak ada yang salah. Hanya saja, melihat kebutuhan nyata yang ada di dalam dunia pendidikan justru harus menjadi fokus dalam pengembangan perpustakaan. Teknologi informasi dapat mewujudkan apabila kebutuhan dan solusi yang dirancang sudah mulai terbentuk.

Namun berbicara mengenai perpustakaan, tidak hanya membahas mengenai koleksi pustaka yang dimiliki dan pengembangan koleksi pustaka dalam bentuk digital. Masih ada pustakawan yang dapat menjadi nilai jual dan penguat dari keberadaan perpustakaan. Apalagi saat ini koleksi buku ataupun buku elektronik semakin mudah didapatkan dengan prosedur peminjaman dan pengembalian yang lebih mudah dan mandiri, bahkan tidak merepotkan peminjam.

Aplikasi iJakarta, iJateng, iPusnas, dan sejenisnya membuat Anda merasa dimanjakan dalam peminjaman buku ataupun pengembalian secara otomatis ketika masa waktu peminjaman sudah usai. Untuk itu, perlu dirumuskan nilai tambah yang menjadi kekuatan dari perpustakaan masing-masing. Konsep Library 4.0 yang mengadopsi unsur-unsur utama dalam Revolusi Industri 4.0 perlu dikembangkan.

Gambaran perpustakaan tradisional dilengkapi buku-buku dari masa lalu sampai masa kini yang tertata rapi berjajar di di rak-rak, juga meja-meja untuk belajar mandiri, sering ditemui di berbagai lokasi. Mungkin ada juga situasi perpustakaan yang terlihat lebih modern dengan sejumlah komputer untuk akses digital ke internet ataupun pustaka digital. Namun suasana yang sepi dan sunyi menjadi ilustrasi perpustakaan yang melekat dalam banyak orang sehingga menjadikannya sebagai tempat untuk mojok atau menghindari keramaian.

Perpustakaan Inovatif
Keberadaan gawai saat ini membuat layanan perpustakaan juga berubah dari semula mengandalkan lokasi, luasan ruang, kelengkapan koleksi, atau sistem informasi; ke perpustakaan yang dapat menyediakan layanan yarig dapat menjawab kebutuhan dunia pendidikan dalam hal menemukan rujukan berkualitas, penulisan rujukan yang baik, bahkan juga mengantisipasi plagiasi (Sanjaya, 2018).

Apabila aktivitas ini dilakukan dengan baik maka eksistensi perpustakaan pada masa depan akan tetap terjaga. Apalagi jika perpustakaan juga menjadi fasilitator bagi pengembangan konten-konten lokal yang akan menjadi koleksi di perpustakaan terkait Konten lokal meliputi artikel ilmiah ataupun dokumentasi pembelajaran di perguruan tinggi masing-masing. Pengelolaan Massive Open Online Course (MOOC) bukan tidak mungkin akan lebih meningkatkan nilai tambah dan kecepatan berkembangnya jika ditangani oleh perpustakaan.

Koleksi pustaka digital juga harus dikembangkan tidak semata-mata buku, majalah, ataupun jumal tetapi konten lain yang dapat memuaskan dahaga pengetahuan bagi pemustaka. Keberadaan perangkat Virtual Reality memungkinkan perpustakaan untuk mempunyai koleksi pustaka yang lebih menarik dan tampak nyata bagi masyarakat (Goan & Liang, 2015). Konten Virtual Reality bukan hanya tersedia di internet ataupun jasa penyedia konten tersebut, namun juga dapat dikembangkan sendiri melalui aplikasi yang sering tersedia gratis di internet.

Pengembangan asisten virtual yang cerdas dan membantu pemustaka mendapatkan kebutuhannya juga perlu dilakukan agar tetap menarik pemustaka dari generasi muda. Unika Soegijapranata mengembangkan Vanika atau Virtual Assistant Unika, salah satunya untuk tujuan tersebut .

Untuk itu, perpustakaan tidak boleh berhenti berinovasi, ke depan, bisa menjadi tempat untuk menemukan pengalaman yang lebih kaya bagi pemustakanya. Dengan menjadi perpustakaan inovatif, perpustakaan akan selalu hidup, memberikan pengalarnan baru dan menghasilkan nilai tambah bagi orang-orang di sekitarnya dan menjadi paru-paru pengetahuan di dunia pendidikan. (Prof Dr F Ridwan Sanjaya MS.IEC, guru besar bidang Sistem Informasi, Unika Soegijapranata)

Tautan:

    

More Recent Articles

You Might Like

Safely Unsubscribe ArchivesPreferencesContactSubscribePrivacy