(Suara Merdeka, Wacana Nasional 4 Juni 2020) "Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas" SKENARIO New Normal (kenormalan baru) yang disiapkan oleh ...
‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ ‌ 

Pembelajaran Daring untuk New Normal and more...


Pembelajaran Daring untuk New Normal

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 4 Juni 2020)


"Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas"

SKENARIO New Normal (kenormalan baru) yang disiapkan oleh pemerintah beserta tahapan-tahapan pemulihan aktivitas di berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan, menyiratkan akan adanya pembukaan kembali sekolah dan kampus dalam waktu dekat. Banyak pihak sebetulnya juga telah berharap bisa segera beraktivitas normal, meskipun juga di sisi lain tidak menginginkan ada peningkatan penyebaran Covid-19 seperti yang terjadi di Korea Selatan dan Jerman.

Praktik pelaksanaannya mungkin tidak semudah yang dibayangkan dan tidak mungkin sama dengan sebelum masa pandemi. Apalagi kita juga tahu, belum ada vaksin yang benar-benar terbukti mampu menyembuhkan dari Covid-19, selain stamina dan peningkatan imun tubuh. Jadi, penerapan protokol kesehatan seperti menjaga jarak aman, mengenakan masker, dan mencuci tangan menjadi syarat dalam kondisi kenormalan baru yang akan diterapkan.
Dalam berbagai infografik kenormalan baru, bidang pendidikan dirancang untuk mulai dibuka pada tahapan ketiga melalui penerapan protokol kesehatan yang ketat dengan mengatur kehadiran siswa secara bergiliran, agar syarat jarak aman dan kapasitas ruang dapat terpenuhi. Dimungkinkan akan banyak skenario yang dihasilkan untuk beradaptasi dengan pengaturan kehadiran siswa secara bergiliran di sekolah atau universitas. Pertama, kapasitas kelas dimungkinkan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan sebelumnya karena jarak antarsiswa akan mengurangi kapasitas kelas pada umumnya. Konsekuensinya adalah biaya penyelenggaraan setiap kelas akan menjadi lebih besar dari sebelumnya, karena jumlah pengajar maupun ruang mengalami peningkatan. Sekolah atau kampus yang telah lama menerapkan kelas dalam jumlah kecil, tentu akan lebih mudah dan diuntungkan dalam situasi ini.
Skenario kedua, akan terjadi gabungan antara tatap muka dan daring atau hybrid learning dengan memungkinkan siswa menjalani pembelajaran dari rumah saat kelompok siswa yang lain hadir di dalam kelas. Konsekuensinya, teknologi informasi yang mendukung pembelajaran harus siap untuk kepentingan live streaming atau rekaman yang bisa diakses dari rumah atau bahkan memungkinkan interaksi secara langsung, meskipun siswa mengikuti pembelajaran dari rumah. Hal ini mungkin sangat sulit di beberapa daerah yang jaringan listrik dan internet tidak stabil maupun terjangkau.
Skenario ketiga akan ada pilihan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring yang dapat dipilih oleh siswa secara terpisah. Namun dengan banyak pengalaman negatif di berbagai sekolah maupun kampus selama proses pembelajaran daring pada masa pandemi Covid- 19 dan keterbatasan akses internet maupun jaringan listrik, pilihan ini kemungkinan tidak efektif untuk ditawarkan. Kondisi pembelajaran daring yang serba mendadak selama lebih dari dua bulan lebih memang menunjukkan kenyataan bahwa banyak pengelola pendidikan belum siap menyelenggarakan pembelajaran secara daring. Perlu dukungan pemerintah untuk dapat memudahkan dunia pendidikan memanfaatkan teknologi informasi dalam implementasi pembelajaran daring dengan tingkat kesiapan yang baik, sehingga siswa maupun pendidik dapat menikmati suasana pembelajaran daring yang tanpa beban dan tertekan. Namun tidak semuanya harus bergantung pada Pemerintah Pusat.

Infrastruktur Teknologi Informasi
Dalam periode pertama pemerintahan di bawah Jokowi, pembangunan infrastruktur sipil merupakan prioritas yang memang terbukti memudahkan akses antarwilayah di berbagai tempat di Indonesia. Pembangunan infrastruktur bukan hanya terkait jalan, jembatan, waduk, ataupun terminal, tetapi juga listrik dan telekomunikasi. Akses internet dan jaringan listrik merupakan salah satu kunci yang mendukung visi SDM pada periode kedua Jokowi. Akses ini menjadi makin krusial pada masa pandemi.
Dana pendidikan 20 persen dari APBN yang diamanatkan oleh undang-undang juga menjadi modal yang cukup besar dalam mempermudah akses pendidikan melalui perluasan infrastruktur untuk internet dan listrik sekolah-sekolah di tanah air. Bahkan keberadaan portal pembelajaran daring sejenis SPADA yang dikembangkan oleh Dirjen Dikti secara tersentral di Jakarta, bisa direplikasi di daerah-daerah melalui dinas pendidikan di setiap kota maupun provinsi. Jika dikaitkan dengan visi smart city yang saat ini sedang digalakkan oleh banyak pemerintah daerah, peningkatan kualitas pendidikan melalui penyediaan infrastruktur pembelajaran yang inklusif termasuk di dalam prioritas yang harus dikembangkan.
Alokasi anggaran pendidikan yang out of the box dari kebiasaan yang sudah terjadi selama ini perlu dipertimbangkan. Kekuatan daerah dalam mewadahi kebutuhan pembelajaran daring bagi sekolah-sekolah di masing-masing wilayah selain untuk tujuan memperingan beban pemerintah pusat, juga untuk menyiasati kondisi masing-masing wilayah. Pengurangan beban yang dimaksudkan agar tidak harus selalu bergantung pada server web Kemendikbud maupun Dikti di Jakarta bertujuan agar juga menghindari bottleneck kepadatan jaringan pada jam-jam tertentu, karena kebutuhan yang sama terhadap server dari masing-masing sekolah atau kampus. Contoh kasus bottleneck dapat kita lihat pada saat server Dikti dan kementerian lainnya tiba-tiba melambat atau bahkan terhenti ketika batas waktu pengumpulan berkas dari seluruh wilayah Indonesia, sehingga seringkali harus dilakukan perpanjangan waktu.
Strategi untuk menyiasati kondisi masing-masing wilayah juga perlu dilakukan, karena jaringan listrik yang tidak selalu hadir di wilayah-wilayah tertentu dan akses internet yang belum tentu sekuat di Pulau Jawa. Keberadaan portal pembelajaran daring di masingmasing Dinas Pendidikan memungkinkan tetap bisa diakses melalui investasi Metropolitan Area Network (MAN) atau Jaringan Area Metropolitan. Menurut Kenneth C Laudon dan Jane PLaudon (2001), MAN menyediakan konektivitas internet untuk LAN di wilayah perkotaan dan bisa menghubungkan ke jaringan yang lebih luas. MAN pada umumnya digunakan oleh jaringan antarbank, perkantoran, maupun kampus dalam cakupan wilayah kota tertentu, baik menggunakan kabel maupun frekuensi radio. Strategi di atas mirip dengan Indonesia Higher Education Network (inherent) yang pernah dibangun oleh Dirjen Dikti, namun dengan cakupan dan terbatas di wilayah kota.
Karena setiap wilayah di Indonesia juga punya karakteristik yang berbeda-beda, baik kondisi listrik, telekomunikasi, maupun literasi teknologi informasi, maka Pemerintah Pusat hanya perlu memberikan pedoman atau standar minimal penyelenggaraan infrastruktur pembelajaran daring. Keberhasilan peningkatan kualitas pembelajaran daring juga harus dikuatkan dalam unsur penilaian implementasi smart city di masing-masing pemerintah daerah. Dengan demikian, terjadi desentralisasi pembelajaran daring yang dapat membantu sekolah maupun kampus di masing-masing daerah untuk tetap bisa bertahan di kondisi normal baru sekarang ini. (37)

— Prof Dr. F. Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata Semarang.
    


Gamifikasi Pembelajaran Daring

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 12 Mei 2020)


HARUS diakui, mulai muncul ungkapan kebosanan dari banyak orang yang menjalani pembelajaran daring, setelah hampir mendekati dua bulan ini. Namun bukankah ini juga dialami di dalam perkuliahan tatap muka ketika kelas tidak berhasil terbentuk kemistrinya, antara pendidik dan peserta didiknya? Pembelajaran daring bukan hanya bicara tentang infrastruktur digital semata, melainkan juga teknik penyampaian materi yang tepat maupun yang sesuai dengan karakter pendidik dan siswanya. Ada seorang guru yang pandai merangkai cerita pengalamannya pada masa yang lalu, sehingga siswanya tidak pernah merasa bosan mendengarnya setiap kali bertemu, bahkan siswa merasa mendapatkan wawasan baru. Namun ada guru yang sama-sama menceritakan masa lalu, tetapi siswanya tidak merasa terbantu bahkan muncul perasaan jemu setiap kali mendengar cerita sang guru.
Di sisi lain, ada juga guru yang dengan penguasaan berbagai teknologi, namun justru membuat siswa merasa terbebani. Namun ada juga guru yang sama-sama menguasai berbagai teknologi, tetapi berhasil membangkitkan hasrat dan motivasi siswanya setiap kali bertemu. Keduanya merupakan contoh keahlian yang sama-sama memanfaatkan kekayaan pengalaman pribadi maupun kekayaan penguasaan teknologi. Cerita masa lalu yang terceritakan ke siswa bukan hanya disampaikan dengan penuh semangat, namun dikemas dalam plot cerita menginspirasi, sehingga mampu menarik perhatian dan fokus siswa.
Begitu juga dengan teknologi, tidak semata-mata soal demonstrasi kehebatan penguasaan teknologi atau bahkan yang viral dan terbaru, namun kemampuan mengemas teknologi dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan memotivasi siswa. Lain lagi dengan penugasan saat pembelajaran. Pada awal-awal masa pembelajaran daring, banyak siswa mengeluhkan terlalu banyak tugas yang diberikan oleh guru pada saat pembelajaran daring, bahkan sering hanya tugas dalam setiap kali pertemuan. Hal ini menyebabkan kesan pembelajaran daring menjadi tidak menyenangkan akibat banyak pendidik yang hanya memberi tugas tanpa ada penjelasan. Akibatnya secara ekstrem mereka akan menyukai guru atau proses pembelajaran yang meniadakan penugasan.
Padahal, langkah pragmatis tersebut akan merugikan pendidik dan siswa dalam mengevaluasi ketercapaian yang diinginkan dalam proses pembelajaran. Pendidik dan siswa sama-sama tidak tahu kelemahan atau kelebihan yang sudah dicapai dalam pertemuan-pertemuannya. Mengurangi komponen pembelajaran akan membahayakan output yang direncanakan karena menghilangkan penugasan sebagai bentuk evaluasi akan membuat kelas menjadi tidak terkendali.
Perlunya Gamifikasi
Setiap komponen pembelajaran merupakan bagian yang penting dan sebaiknya tidak dilewatkan. Namun suka-cita dalam pembelajaran daring juga harus tetap terjadi atau bisa saja dibuat menjadi lebih menyenangkan dibandingkan dengan sebelumnya. Gamifikasi atau penerapan prinsip-prinsip permainan di dalam aktivitas nonpermainan, yang pertama kali dimunculkan oleh Nick Pelling (2004) merupakan salah satu cara dalam menerobos kebosanan dan mendorong minat untuk melanjutkan.
Penerapan gamifikasi sering kita lihat pada berbagai aplikasi marketplace tempat setiap terjadi transaksi, maka pembeli dimungkinkan untuk mendapatkan kotak, telor, peti, atau kado kejutan yang di dalamnya berisi voucher, kupon, atau lainnya yang membuat pembelinya terdorong untuk kembali mendapatkan. Bahkan, untuk jumlah tertentu, pembeli bisa menukarkannya dengan hadiah yang diinginkan. Hal tersebut bisa diterapkan juga di dalam pembelajaran daring.
Platform pembelajaran Cyber Learning di Unika Soegijapranata menyediakan fitur gamifikasi yang memberikan skor untuk setiap aktivitas yang dilakukan oleh mahasiswa. Masing-masing aktivitas mempunyai poin yang berbeda-beda berdasarkan aturan dari dosen yang mengelola pembelajaran. Apabila skor yang dicapai sudah lebih dari tingkatan tertentu, maka mahasiswa mendapatkan penghargaan berupa peningkatan level dan medali yang berbeda.
Selama proses pembelajaran, masing-masing mahasiswa dapat melihat perubahan papan skor yang menunjukkan aktivitasnya di dalam kelas tersebut. Dengan menjadikan aktivitas pembelajaran daring serasa seperti di dalam permainan, maka ada hiburan dan tantangan yang bisa dirasakan sebagai pemecah rasa bosan. Bahkan, di pengujung pertemuan, nilai yang diperoleh dalam papan skor dan level yang dicapai oleh mahasiswa bisa dikonversikan menjadi kejutan yang disiapkan oleh dosen pengampu.(37)
— Prof Dr F Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata.
Tautan:
► Suara Merdeka 12 Mei 2020 hal. 4
Portal Berita Unika Soegijapranata

    


Bisa Manggung di Media Sosial


(Tribun Jateng, News Analysis, 11 Mei 2020)

SEJAK pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, berbagai aktivitas masyarakat terpaksa berhenti. Wayang Orang Ngesti Pandawa yang biasanya tampil setiap Sabtu jam 20.00 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) menghibur masyarakat Semarang dan sekitarnya akhirnya juga memutuskan untuk berhenti, mengikuti Surat Edaran Gubernur Jawa Tengah tanggal 14 Maret 2020 tentang Peningkatan Status Kewaspadaan Terhadap Risiko Penularan Infeksi COVID di Jateng.
Kondisi ini tentunya menyulitkan bagi para seniman yang menggantungkan hidupnya pada dunia pertunjukan kesenian seperti Wayang Orang. Namun di sisi lain, kondisi ini dapat menciptakan peluang bagi Ngesti Pandawa untuk menghibur kalangan yang lebih luas lagi. Modal yang terpenting untuk menghadapi kondisi ini adalah mereka tidak boleh putus asa dan tetap bersemangat menyalurkan kecintaannya pada dunia kesenian, meskipun tidak lagi bisa di atas panggung.
Pertunjukan dalam bentuk digital yang saat ini telah mulai banyak di media sosial memang menjadi solusi kebuntuan penyaluran bakat dan aspirasi seni di tempat publik. Bahkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) juga ikut mendukung dengan memberikan insentif kepada seniman yang menghasilkan karya dengan syarat lokasi tampil di rumah saja dan jumlah seniman yang terlibat dibatasi sampai tiga orang saja. Insentif ini cukup mendorong para seniman untuk bergerak keluar dari zona nyaman, yaitu belajar teknologi audio visual, meskipun dengan peralatan gawai yang sederhana. Ngesti Pandawa dengan laskar mudanya juga bergerak ke arah yang sama dan bertransformasi dengan tetap melibatkan seniman-seniman senior di dalamnya. Beberapa seniman yang mempunyai kemampuan dalam hal merekam dan video editing secara otodidak, mulai mengkonversikan pertunjukan yang sebelumnya di panggung ke dalam bentuk video. Tentunya dengan mematuhi protokol untuk physical dan social distancing.
Meskipun adegan demi adegan direkam secara terpisah dengan jarak aman dan sebetulnya tidak dibutuhkan masker, namun penggunaan masker oleh para seniman di dalam video-video tersebut bukan hanya untuk memperlihatkan kepatuhan pada aturan saja, tetapi juga behtuk kepedulian dan perasaan empati dengan sesama. Dengan begitu, video pertunjukan ini dapat menjadi salah satu media sosialisasi dan edukasi untuk protokol Covid-19 dengan gaya Wayang Orang yang mungkin berbeda dengan yang pernah dilihat sebelumnya.
Mulai Mei 2020, Wayang Orang Ngesti Pandawa mulai akan menayangkan video-video pertunjukan yang berkisar 10 sampai maksimal 15 menit di media sosial, termasuk Youtube. Pertunjukan yang akan kita tonton bersama ini merupakan bentuk baru yang disajikan oleh Wayang Orang Ngesti Pandawa selama masa pandemi ini. Harapannya, meski tidak di atas panggung, pertunjukan ini tetap bisa menghibur kita semua.
Tidak Ada Ticket Box
Jika sebelumnya untuk menonton pertunjukan Ngesti Pandawa, kita harus membeli tiket melalui ticket box yang ada di depan gedung, saat ini tidak lagi. Masyarakat yang terhibur dapat menyalurkan donasi untuk seniman-seniman Wayang Orang Ngesti Pandawa melalui kotak donasi virtual, dengan menggunakan GoPay, Ovo, Dana, Link Aja, Maybank, BCA, atau aplikasi-aplikasi lain yang dapat menerima kode QRIS.
Masyarakat dapat mengunjungi website donasi Ngesti Pandawa di alamat bit.ly/ngesti atau unika.ac.id/ngesti. Berapapun dukungan masyarakat melalui donasi tersebut, tentunya akan sangat membantu kiprah para seniman Wayang Orang Ngesti Pandawa. Dengan begitu, produksi pertunjukan Wayang Orang secara rutin akan dapat dihasilkan meskipun di tengah-tengah kondisi sulit seperti saat ini.
Dalam diskusi terbatas dengan pengelola dan seniman Wayang Orang Ngesti Pandawa, penulis mendapatkan kesimpulan bahwa dengan bisa beraktivitas meskipun dalam bentuk digital dan tidak mungkin bertatap muka pada saat pementasan, merupakan peluang dan harapan untuk tetap bertahan dan mungkin sebagai jalan agar tetap bisa menggantungkan hidupnya di dalam dunia yang dicintainya.
Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga mengapresiasi dan mendukung aktivitas ini sebagai bentuk kemandirian hidup para seniman di masa sulit, dengan menggunakan teknologi yang ada dan menghidupkan kembali budaya masyarakat dalam gotong-royong saling bantu-membantu dalam bentuk crowdfunding atau penggalangan dana masyarakat dengan bentuk digital.
Semangat untuk melihat kehidupan baru dan tidak berkeluh kesah dalam menjalani cara baru dapat menjadi pembangkit imun yang kuat bagi para seniman dalam menghadapi pandemi ini. Kepedulian sosial dari berbagai lapisan masyarakat selama wabah ini juga membuktikan bahwa Indonesia masih punya harapan untuk saling bahu-membahu menghadapi musuh bersama, yaitu pandemi Covid-19. Mari kita bantu!
Prof. Dr. F. Ridwan Sanjaya, Rektor dan Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata 
Tautan:
► Tribun Jateng, 11 Mei 2020 hal. 1, 7

    


Normalitas Baru Pembelajaran Daring

(Tribun Jateng, Opini 3 April 2020)


Oleh: Prof. Dr. F. Ridwan Sanjaya, MS.IEC, Rektor dan Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata

DALAM beberapa tahun terakhir ini, manusia dihadapkan dalam berbagai disrupsi yang terjadi di hampir semua bidang kehidupannya. Awalnya dianggap sebagai kekacauan (chaos) namun pada akhirnya menjadi normalitas baru (new normality) yang dianggap biasa dan dijalani menjadi kebiasaan baru. Hal ini juga kita lihat pada dunia pendidikan pada saat dunia diterpa wabah Covid-19. Banyak sekolah yang sebelumnya cukup nyaman dengan pembelajaran tatap muka dibuat kocar-kacir tidak berdaya karena tidak pernah menyiapkan rencana cadangan ketika terjadi hal yang tidak diinginkan, salah satunya ketika sekolah dipaksa tidak bisa bertatap muka secara langsung.
Berbagai reaksi muncul dalam menyikapi hal tersebut, ada yang langsung siap mengalihkan menjadi pembelajaran dalam jaringan (daring), ada yang baru bergegas mempersiapkan infstruktur, ada pula yang mencari-cari cara yang cepat dan mudah untuk menyampaikan materi ke anak-anak didiknya, atau bahkan ada yang hanya sekedar memberi tugas secara beruntun seperti tidak pernah ada akhirnya. Namun hal ini terpaksa dilakukan sebab berdiam dan tidak melakukan apa-apa justru resikonya lebih besar.

Memang benar pernyataan bahwa teknologi hanyalah alat yang dipakai di dunia pendidikan sebagai sarana untuk menyampaikan ilmu dan pengetahuan. Namun teknologi yang beragam jenisnya ini jika dipakai dengan cara yang salah atau tidak tepat peruntukannya akan menyebabkan tujuannya untuk menyampaikan ilmu dan pengetahuan tidak akan pernah tercapai.
Kita tidak pernah tahu kapan wabah ini akan berlalu dari kita sehingga berbuat yang terbaik pada saat darurat ini menjadi pilihan yang paling masuk akal dibandingkan memimpikan untuk berbuat yang terbaik pada saat nanti kembali mengajar dengan normal. Jika pada saat sekarang saja kita tidak bisa berbuat yang terbaik, apalagi pada saat nanti dimana waktunya tidak pasti kapan datangnya.
Seperti yang disampaikan oleh Kotler dalam bukunya yang berjudul "Chaotic: The Business of Managing and Marketing in the Age of Turbulence", ketika normalitas baru ini selesai dirasakan sebagai kekacauan, maka berbagai tindakan kita yang awalnya untuk merespon perubahan akan berubah menjadi suatu kebiasaan baru, termasuk cara kita menjalankan pembelajaran secara daring dan bagaimana siswa menerima pembelajaran daring.

Nilai Lama Menjadi Tidak Relevan
Nilai-nilai lama yang dianggap sebagai kebenaran hakiki tiba-tiba dijungkirbalikkan dan menjadi tidak relevan dalam berbagai kondisi. Semua menjadi terasa dikunci pada satu pilihan saja. Masa wabah yang tidak bisa diprediksi dan telah menyebabkan batalnya rentetan rencana dan kegiatan, telah membuat praktek lama yang dijalani berpuluh-puluh tahun menjadi tidak bisa dijalani sama sekali. Insitusi yang tidak siap dalam memberi alternatif pembelajaran tanpa tatap muka ini, bahkan kemudian juga mengalami tuntutan pengembalian uang sekolah karena stakeholder merasa tidak mendapatkan haknya dalam belajar.
Menurut Yuval Noah Harari yang terbit di Financial Times tanggal 20 Maret 2020, wajah dunia akan menjadi berbeda setelah wabah virus Corona. Begitu juga dengan wajah dunia pendidikan. Jika sebelumnya pembelajaran daring menjadi suatu kemewahan dan keistimewaan institusi tertentu atau bahkan masuk dalam mitigasi bencana, maka pada masa-masa yang akan datang menjadi sebuah bagian rutinitas pembelajaran. Bagi mereka yang tidak mau beradaptasi akan menghadapi kenyataan akan tergeser seperti yang disampaikan oleh Clayton Christensen dalam bukunya yang berjudul Innovator's Dilemma.
Apabila kita menjadi adaptif dan merespon dengan positif, maka kekacauan dan perubahan yang terjadi akan dapat dilewati dengan baik. Berbagai hal yang dianggap sebagai kesulitan dan batasan akan terasa menjadi sebuah persyaratan dasar yang biasa-biasa saja.
Jika awalnya infrastruktur, pilihan teknologi, metode penyampaian materi, administrasi pembelajaran, bahkan kuota Internet menjadi masalah ketika tiba-tiba diharuskan untuk menjalankan pembelajaran daring, maka hal tersebut akan menjadi praktek dasar bagi setiap pengelola institusi pendidikan saat wabah ini selesai. Beberapa orang yang tetap keras kepala untuk hanya mengakui tatap muka sebagai satu-satunya jenis yang ideal dalam pembelajaran akan berubah dengan seiringnya waktu.
Tidak ada yang sulit sama sekali untuk dilakukan, karena dunia pendidikan juga bukanlah entitas yang masing-masing berdiri sendiri. Bergandengan tangan dalam berbagi materi pembelajaran dan menggunakan sumber pembelajaran daring secara bersama-sama merupakan salah satu semangat yang dibawa oleh platform pembelajaran daring seperti edX, MOOC Aptikom, Kuliah  Online APTIK, IndonesiaX, dan masih banyak lagi.
Di tengah kondisi sulit ini, kita masih diberi beberapa pilihan untuk bisa diambil sebagai bagian pertanggungjawaban kita kepada stakeholder, baik dalam jangka waktu pendek maupun dalam jangka waktu panjang. Masa depan pendidikan ada di tangan kita semua yang siap berubah. 

#LearnFromHome #IndonesiaStayStrong.

Tautan:






    

Kuliah Daring, Jangan Repot

(Suara Merdeka, Wacana Nasional 2 April 2020)


"Diskusi bisa bersifat real-time maupun dengan rentang waktu tertentu. Sehingga, evaluasi pembelajaran dapat dilakukan secara tepat meskipun dengan kondisi terbatas."

KONDISI saat ini tentu tidak pernah kita harapkan. Tak heran banyak rencana tiba-tiba berubah atau bahkan ditiadakan. Kadangkala rencana cadangan juga tidak pernah disiapkan karena tidak terbayangkan sebelumnya. Hal ini dialami oleh beberapa sekolah dan kampus yang mendadak pindah ke pembelajaran daring. Sebab untuk melanjutkan ke pembelajaran tatap muka sangat tidak dimungkinkan.

Beberapa sekolah dan kampus yang telah mempersiapkan pembelajaran daring sejak lama, tentu saat ini menghadapi kejutan dan kenyataan bahwa mahasiswa membutuhkan kuota internet secara masif untuk mengikuti kuliah daring secara massal.
Bagi pemilik infrastruktur pembelajaran daring juga akan dikejutkan dengan lonjakan beban akses dari dosen dan mahasiswa pada saat kuliah bersama-sama. Namun hal ini jauh lebih beruntung dibandingkan dengan sekolah dan kampus yang tidak memiliki infrastruktur atau perencanaan sebelumnya.
Beberapa kampus berhasil mengajak kerja sama operator-operator telepon seluler skala besar untuk mendukung kebutuhan kuota internet yang tidak biasa, dengan cara menambahkan kuota gratis rata-rata sebesar 30 gigabyte (GB) untuk satu bulan melalui program Corporate social responsibility (CSR).

Bagi pengguna internet rumahan tentu tidak jadi masalah karena ratarata penyedia jasa layanan internet tersebut tidak memberikan batasan kuota internet dalam satu bulan. Sehingga, siswa dan mahasiswa pengguna internet rumahan tidak mengalami kendala seperti pengguna kuota internet telepon seluler.
Sedangkan bagi sekolah dan kampus yang tidak merencanakan pembelajaran daring sebelumnya, sebaiknya juga tidak cemas. Pengelola pendidikan cukup memilih salah satu platform yang paling mudah dan didukung oleh kuota gratis semua operator telepon seluler.

Diskusi
Pada prinsipnya, pertemuan tatap muka bisa saja diganti dengan pertemuan virtual secara interaktif maupun satu arah, namun diimbangi dengan diskusi. Pelaksanaan diskusi bisa bersifat real-time maupun dengan rentang waktu tertentu. Sehingga, evaluasi pembelajaran dapat dilakukan secara tepat meskipun dengan kondisi terbatas.
Terlepas dari adanya ujian akhir ataupun tidak, keberadaan pembelajaran daring akan banyak membantu siswa atau mahasiswa untuk tetap mendapatkan haknya dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Juga membantu mereka untuk tetap berinteraksi dengan sekolah dan teman-temannya secara virtual.
Pada kenyataannya, tidak ada pendekatan yang paling sempurna dalam kondisi darurat saat ini. Namun lebih baik tidak sempurna daripada tidak sama sekali. Kemampuan guru dan dosen akan teknologi informasi yang terbatas dan beragam dapat diberikan kebebasan dalam memilih alternatif yang ada dan didukung oleh operator telepon seluler, agar bukan hanya mudah bagi pengajar, tetapi juga tidak memberatkan bagi mereka yang diajar.
Untuk itu sekolah dan kampus perlu mencermati aplikasi dan platform pembelajaran daring apa saja yang didukung oleh operator telepon seluler. Sebaiknya, tidak perlu lagi mengembangkan platform sendiri yang akan berakibat mundurnya proses pembelajaran.
Adapun bagi sekolah atau kampus yang telah didukung oleh operator telepon seluler, akan sangat bijaksana untuk memanfaatkan keistimewaan tersebut. Di samping memudahkan siswa atau mahasiswa, pengelola sekolah ataupun kampus dapat mencurahkan fokus kepada satu platform yang bisa dikuasai secara maksimal oleh dosen maupun mahasiswa. Kegiatan troubleshoting juga bisa diselenggarakan dengan lebih mudah oleh pengelola apabila platform yang digunakan telah pasti dipilih.
Kita tidak tahu kapan wabah ini akan berakhir, namun tetap selalu berharap segera kembali seperti sediakala. Namun berbuat maksimal dalam tanggung jawab pembelajaran jangan menunggu ketika kondisi menjadi normal kembali. Justru saat ini kita bisa menunjukkan tanggung jawab yang terbaik meskipun kondisi sedang tidak baik. (46)

Prof Dr F Ridwan Sanjaya, Guru Besar Sistem Informasi Unika Soegijapranata

Tautan:


    

More Recent Articles

You Might Like

Safely Unsubscribe ArchivesPreferencesContactSubscribePrivacy